Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

28 June, 2005

Keisya Namanya


Keisya namanya…Menurut sang bunda nama itu diambil dari kata “Keyza” yang artinya bidadari surga yang cantik. Keisya Fidina nama lengkapnya. Kata terakhir diambil dari gabungan nama ayah dan Bundanya. Hampir setiap pagi suaranya yang riang selalu menghiasi hari-hari kerja kami di kantor. Cantik…,Gendut…, kriwul…., tembem…. dan berbagai macam julukan ditujukan kepadanya yang kesemuanya cukup untuk menggambarkan sosok mungil Keisya ketika kita membayangkannya.

Sejak usianya 3 bulan, Keisya sudah terbiasa ikut kerja dengan bundanya dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Bulan April tanggal 14 kemarin Keisya genap berusia 2 tahun. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada Bundanya, alasan kenapa keiysa tidak ditinggal saja di rumah, karena saya kasihan melihatnya tiap pagi harus ikut berdesakan di kendaraan umum. Alasannya hanya satu karena sang Bunda tidak tega meninggalkannya di rumah dengan pembantu. “Biar saya bisa mengawasi langsung perkembangannya” begitu sang bunda menjawab pertanyaan saya. Memang bukan pilihan yang gampang bagi seorang ibu yang juga harus bekerja. Jika harus dihitung berarti sudah lebih dari 2 tahun Keisya menghabiskan masa kecilnya di kantor tempat saya kerja. Bermain, berkomunikasi, belajar, dan lain sebagainya semua dia lakukan di sini.

Sudah pasti kami semua ikut mengikuti perkembangannya. Dari mulai bayi yang hanya bisa menangis, mulai belajar berjalan, mengenal kami teman-teman kerja bundanya, hingga tangannya yang mungil mampu meraih pengangan pintu untuk membuka dan mendatangi bundanya di ruangan kerja kala di merindukannya.

Sekarang Keisya sudah mulai pandai bicara. Bahkan menyanyipun sudah menjadi salah satu hobinya kala dia sedang bermain, walaupun kata-kata yang dia keluarkan kadang-kadang saya sendiri tidak mampu menangkap maksudnya. Bunda itu panggilan dia kepada ibu kandungnya, mama adalah panggilan sayangnya kepada saya, ibu adalah panggilan manis dia kepada pengasuhnya. Hampir kepada semua dia berikan panggilan sayangnya. Iya...kami semua memang menyayanginya

Begitu banyak kata yang sekarang bisa dia keluarkan dari mulutnya yang mungil. Begitu banyak benda-benda di kantor kami yang sudah bisa tunjuk, ketika kami menanyakannya.

Tapi kemarin ada satu kejadian yang mengusik perasaan saya. Namanya juga berada di lingkungan kerja dengan berbagai macam sifat manusia. Saya tahu, mungkin maksudnya hanya bercanda. Ada seorang teman yang sengaja mengajarkan kata-kata “kotor” kepada Keisya. Tapi yang saya heran, Keisya hanya diam dan kemudian mengucapkan “emoh..emoh” yang artinya “nggak mau” Subhanallah…Allah telah menjaga hati dan lidahnya. Padahal biasanya dia selalu mengucapkan apa saja yang orang ajarkan ke dia. Saya yakin Keisya sendiri bahkan tidak mengetahui artinya “kata” itu. Maha Suci Engkau Ya Allha...

Hanya satu do’a saya saat itu, semoga kata-kata itu tidak pernah terekam dalam memorinya hingga akan memudarkan lembaran putih dan kepolosannya hatinya hanya karena dia mengucapkan kata-kata itu kelak di kemudian hari. Semoga. Dan untuk “temanku” jangan terulang untuk kedua kalinya.

Buat Keisya…..semoga Allah selalu menjagamu. Jadilah Bidadari kecil surga yang cantik untuk ayah dan bunda…sesuai dengan harapannya ketika memberikan nama KEISYA untukmu.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 16:32 :: 5 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

24 June, 2005

Kebebasan

Kau hanya Dapat Bebas Sepenuhnya
Pabila Kau Dapat Menyadari
Bahwa Keinginan Untuk Bebaspun
Merupakan Sebentuk Belenggu Bagi Jiwamu
Hanya Jika Kau Pada Akhirnya
Berhenti Berbicara Tentang Kebebasan
Sebagai Suatu Tujuan Dan Sebuah hasil Pencapaian
Maka Kau Akan Bebas,
Bila Hari-Hari Tiada Kosong dari Beban Pikiran
Dan Malam-Malamu Tiada Sepi Dari Kekurangan dan Kesedihan
Bahkan Justru Kebebasanmu
Berada Dalam Rangkuman Beban Hidup Ini
Tetapi Yang Berhasil Engkau Atasi
Dan Jaya Kau Tegak Menjulang Tinggi
Sempurna, Terlepas Dari Segala tali Temali
(Khalil Gibran)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 12:00 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

21 June, 2005

Arti Seorang Teman

Apakah Arti Seorang Teman?
Ia adalah seseorang yang memberi kamu keberanian dalam menampilkan diri apa adanya
Jiwamu bebas telanjang dengannya.
Dia meminta kamu untuk tidak berbaju dengannya
Ia tidak ingin kamu lebih sedih atau bahagia
Jika kamu bersamanya, kamu adalah seorang pidana yang telah dinyatakan bebas
Kamu tidak perlu membatasi diri, kamu dapat berbicara apa yang ada di pikiran selama itu adalah kamu yang sebenarnya.
Ia mengerti kontradiksi yang ada di tindak lakumu yang kadang kala disalah tafsirkan oleh orang lain.
Dengannya kamu dapat membuka segala kesombongan, keirian, kebencian dan amarah api, kejahatan dan keanehan dalam benak hatimu.
Di dalam segala keterbukaan itulah segalanya menghilang dan mencair dalam laut kesetiaannya.
Dia mengerti, kamu tidak harus berhati-hati, kamu dapat menyakiti, tidak memperdulikan dan menerima dia.
Yang paling membahagiakan adalah kenyataan di mana kamu tetap hadir di sampingnya dengan segala kekurangan dan kelebihan.
Sebenarnya semua itu tidaklah penting
Dia suka padamu
Dia bagaikan air jernih yang mengalir terus agar jiwamu bersih dan segar.
Dia mengerti kamu
Kamu dapat menangis, tertawa dan berdoa dengannya
Melalui semua itu,semakin dalam dia melihat, mengerti dan mencintaimu.
Seorang teman?
Apa arti seorang teman?
Hanya ada satu. Ia adalah seorang yang memberi kamu keberanian diri apa adanya
(Dari seorang sahabat, Akhistin)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 07:59 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

20 June, 2005

Maafkan Saya Ibu

“Usahakan selesai hari ini juga, kalau tidak semua pembayaran akan terlambat” itu yang disampaikan atasan saya sebelum meninggalkan kantor tadi siang. Wah…sudah pasti saya harus lembur hari ini, karena masih menggunung pekerjaan yang harus saya selesaikan. Beruntung bukan hanya saya saja yang harus tinggal lebih lama di kantor... jadi masih ada teman

Adzan maghrib berkumandang, Alhamdulillah…akhirnya selesai juga pekerjaan ini. Kebetulan hari ini hari Kamis. Jika tidak sedang berhalangan memang saya usahakan untuk puasa, demikian juga dengan hari ini. Siang tadi saya sempatkan telepon ke rumah untuk menanyakan menu buka puasa hari ini. Sudah menjadi kebiasaan ibu memasak makanan kesukaan saya kalau sedang berpuasa.

Segera saya batalkan puasa dengan segelas air putih. Ajakan teman-teman untuk makan malam di sebuah rumah makan yang berada di dekat kantor seusai saya sholat sholat Maghrib segera saya iyakan. Lumayan sekalian refreshing rame-rame. Lagi pula untuk pulang ke rumah membutuhkan waktu sekitar 45 menit

Nikmat sekali rasanya buka puasa hari ini...mungkin karena tenaga dan pikiran banyak terfosir pada waktu lembur tadi. Setelah ngobrol sebentar dengan teman-teman, saya memutuskan untuk pulang duluan, karena kebetulan rumah saya paling jauh dibandingkan dengan mereka.

Belum lagi mesin motor saya matikan, ibu yang kelihatannya sudah menunggu kedatangan saya segera membukakan pintu pagar depan “Kok malam sekali pulangnya, kan puasa hari ini, apa nggak kasihan sama perutnya?” Tanya ibu. Jelas sekali ada guratan kekhawatiran di raut wajahnya. Memang biasanya sebelum maghrib saya sudah di rumah, kalaupun harus pulang malam saya usahakan untuk memberitahu orang rumah

Deg…tersentak saya mendengar ucapannya. Baru saya ingat kalau tadi siang waktu telepon, kami janji buka puasa bersama di rumah. “Memangnya ibu belum buka puasa” Tanya saya. “Ya belum, ibu nunggu kamu, ga enak rasanya buka puasa sendirian” jawab ibu.

Astaughfirullah…Ternyata ibu rela mempertahankan rasa lapar untuk memenuhi janjinya pada saya, sementara saya sendiri sudah melupakannya ketika sedang makan bersama teman-teman tadi. Seperti mendapat tamparan keras rasanya hati ini. Saya malu pada diri saya sendiri. Ya Allah…. Di saat ibu menahan laparnya..justru saya kenyang dengan menikmati masakan orang lain di luar. Di saat ibu mengkhawatirkan saya, justru saya sedang menghabiskan waktu dengan ngobrol bersama teman-teman. Bahkan keinginanya untuk sekedar menikmati hasil masakannya bersamapun, saya abaikan begitu saja.

Saat itu yang terlintas di benak saya adalah berbohong dengan mengatakan bahwa saya juga belum berbuka puasa,...sekedar untuk tidak mengecewakan beliau. Tapi entah mengapa yang keluar dari mulut ini justru sebaliknya. “Maaf Bu, saya tadi sudah buka di jalan”….

“Ya udah ga papa, ibu hanya mengkhawatirkanmu saja”. Jawab beliau dengan tenang. Inilah yang membuat saya semakin kagum….ibu tidak pernah menunjukkan kekecewaannya, bahkan pun kepada yang menyakiti hatinya. Saya bisa melihat dan merasakan, di balik kekhawatirannya itu pasti ada kekecewaan. Karena saya juga pernah merasakan hal yang sama ketika seorang teman tidak memenuhi janjinya, padahal saya sudah menanti dengan penuh harap.

Ya Allah…cukuplah saya melupakan janji pada ibu satu kali ini saja. Jangan biarkan hati ini lupa untuk kesekian kalinya, bahkan untuk hal yang sekecil apapun. Bukankah ibu yang selalu mengingat kita anaknya dalam doa yang keluar dari setiap hembusan nafasnya? Namun seringkali kita begitu mudah melupakannya.

Maafkan saya ibu…

Posted by Ida Latifa Hanum :: 06:56 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

18 June, 2005

Jangan Pernah Meragukan-Nya

Ini kejadian lama ketika saya masih berada di bangku kuliah. Sebenarnya sudah sejak lama niat untuk menunaikan kewajiban sebagai muslimah...yaitu untuk berjilbab...itu ada. Tetapi entah kenapa niatan itu belum juga terwujud. Mungkin salah satunya karena banyak orang yang memiliki pendapat berbeda, setiap kali saya menanyakan hal ini. Ada yang mendukung, tapi kebanyakan dari mereka malah menyarankan “tunda jika kamu merasa belum siap untuk melakukannya apalagi dengan ilmu agamamu yang masih pas-pasan”

Hal itulah yang selalu mengusik hati saya? Sampai kapan ini harus saya tunda? Harus mencapai ilmu yang seberapa tingkatannya hingga saya boleh dan layak untuk mengenakannya? Ya Allah….kenapa hal ini selalu mengusik hati saya. Bukankah ilmu tiada batasannya? Bukankah tingkatan ilmu seseorang bukan menjadi syarat dalam memakai hijab? Bukankah kewajiban untuk berhijab datang ketika seorang wanita telah balig? Masya Allah…jika harus saya hitung mundur…berarti sudah lebih dari 10 tahun sejak kewajiban itu datang, saya mengabaikannya begitu saja perintah Allah ini. Astaughfirullah..ampuni hambamu ini ya Allah….yang telah menyiakan nyiakan begitu banyak waktu untuk sebuah kebaikan.

Akhirnya tanpa menghiraukan berbagai macam pendapat yang semakin membingungan saya…entah dorongan dari mana, hari itu juga saya putuskan untuk memakai jilbab. Ada satu kejadian yang masih saya ingat sampai ini, pada saat pertama itu semua yang saya pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah pinjaman dari teman kost 1 kamar yang kebetulan sudah berhijab lebih dulu. Sehingga yang terlintas di benak saya pada saat itu, mampukah saya memiliki jilbab serta pakaian sendiri? Apa yang bisa saya pakai untuk hari-hari selanjutnya? Saat itu saya hanya memiliki 3 buah jilbab yang biasa saya pakai jika ada acara keagamaan saja. Tapi seketika itu juga saya teringat dengan kata2 seorang sahabat saya “jangan khawatir Allah akan memudahkanmu”

Subhanallah…ternyata kata2 sahabat saya tadi terbukti. Kekhawatiran saya akan tidak bisa membeli jilbabpun tidak terbukti karena banyak teman yang memberi selamat dengan menghadiahkan jilbab….yang sampai saat inipun saya masih menyimpannya….. Saya yakin Allah telah merencanakan semua ini. Bahkan tanpa saya sadari..pakaian lamapun tanpa terasa telah pergi satu persatu dari almari pakaian…entah kemana sayapun sudah tidak ingat lagi. Saya tidak menyangka ternyata begitu banyak orang yang selama ini menyayangi dan mendukung saya. Sehingga mereka ikut bersyukur atas keputusan saya ini.

Lambat laun saya mulai menemukan jawaban atas keragu-raguan saya yang dulu…ternyata benar jilbab bisa menjadi “penjara” bagi kita untuk tidak melakukan hal-hal yang semakin menjauhkan kita kepada Sang Maha Kuasa. Justru dengan jilbab inilah kita harus selalu berusaha menjaga kesucian di baliknya, sehingga kita akan selalu berhati-hati dalam setiap bersikap dan bertingkah. Karena jilbab ini pulalah saya merasa malu akan dangkalnya pengetahuan saya tentang agama saya sendiri, sehingga mendorong saya untuk terus belajar.

Ya Allah…jika Hidayah ini tidak pernah Kau berikan …mungkin saya masih terus mempertahankan “jangan berhijab kalau ilmu agamamu masih pas-pasan? Sampai kapan? Karena saya yakin ilmu-Mu yang tiada akan pernah berakhir pada satu titik...sampai saatnya diri ini harus kembali pada-Mu lagi. Segala puji bagimu ya Allah... hati ini telah merasakan nikmat-Mu atas perintah Hijab...Jagalah hati ini untuk selalu berada di jalan-Mu

Untuk seorang Sahabat yang sedang dalam kebimbangan, jangan pernah meragukan perintah Allah… karena Allah tidak akan memerintahkan sesuatu kecuali untuk kebaikan umatnya….

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:29 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------