Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

30 July, 2005

Senyumlah...Senyumlah

"Sebel Mbak aku hari ini..., nggak bakalan deh aku balik ke sana lagi..., orang kok nggak ada ramah-ramahnya"
Waduh...teman saya ini, pagi-pagi kok sudah bawa udara nggak segar di kantor. Selidik punya selidik, ternyata hari ini dia kesal sama seorang pemilik toko yang ada di dekat perusahaan tempat saya bekerja. Orang kantor yang nggak tahu apa-apapun harus dengan rela menikmati ungkapan kekesalannya.

Kejadian beberapa hari yang lalu itu memang mengingatkan saya pada sebait lagu dari Raihan:
"...Senyum tanda mesra
Senyum tanda mulia
Senyuman sedekah yang paling mudah
Hati yang gundah terasa tenang
Bila melihat senyum hati kan tenang
Senyumlah...senyumlah..."

Tapi kok kayaknya sekarang senyum menjadi sesuatu langka ya? Bayangin aja kalau kebanyakan orang berpikiran seperti teman saya tadi... bisa-bisa nggak ada yang mau mampir ke tokonya...udah nggak dapat rejeki, disumpahin orang lagi.

Wah...jangan-jangan saya selama ini juga seperti itu?. Duh...jadi kepikiran nih,sudah berapa banyak ya rejeki dari Allah yang hanya lewat di depan mata, hanya karena saya menyambutnya dengan muka masam?. Sudah berapa banyak ya teman yang malas bertemu dengan saya hanya karena saya mahal senyum? Atau lebih parah lagi, masih cukupkah jari ini untuk menghitung banyaknya teman-teman yang sakit hati gara-gara kita menanggapi ucapannya dengan wajah tidak ramah?

Jadi kenapa mesti senyum menjadi susah ya...?
Padahal sudah pasti bikin kita semakin cantik, bikin orang lain betah berteman dengan kita, rejeki Allah juga nggak bakalan takut lagi datang menghampiri kita. Dan yang pasti ada pahala tersendiri. Berbuat baik ternyata nggak susah kalau saja kita punya kemauan. Bayangkan, andai kita mau tersenyum satu kali saja dalam satu hari, berarti 365 kali kebaikan sudah kita lakukan dalam satu tahun. Lumayan kan untuk tambahan bekal perjalanan kita kepada-Nya..... Jadi jangan ragu lagi, senyumlah...senyumlah...

Posted by Ida Latifa Hanum :: 15:22 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

25 July, 2005

Duh...Susahnya Bilang Maaf

Kata "maaf" memang hanya terdiri dari 4 huruf. Mudah dieja, gampang dibaca, tetapi benar-benar sukar untuk diungkapkan. Kita lebih memilih tidak bisa tidur nyenyak karena tersiksa dengan rasa bersalah kita kepada orang lain daripada mengungkapkan kata maaf.

Ada kalanya orang berpikir bahwa permintaan maaf tidak harus diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Semua itu tidak salah dan tidak juga dilarang. Tetapi kalau mau jujur itu hanyalah sebuah alasan, ketika kata maaf tidak mampu kita ungkapkan. Yang sebenarnya terjadi adalah hanya karena kita kelewat gengsi untuk mengakui kesalahan diri sendiri.

Jika kita mau sedikit saja mengabaikan perasaan gengsi, ada banyak kebaikan yang bisa kita ambil dari kata maaf. Yang pertama, dengan kata "maaf", orang yang dimintai maaf akan merasa senang karena tahu orang yang berbuat salah itu telah menyesali perbuatannya. Mereka yang tadinya akan marah, bisa jadi mengurungkan niatnya setelah mendengar permintaan maaf yang dari orang yang berbuat kesalahan. Di antara kita pasti pernah merasakan bagaimana rasanya jika orang yang berbuat salah pada kita bukannya minta maaf tapi malahah cengar-cengir. Jengkel bukan?.

Yang kedua, bagi orang yang berbuat kesalahan. Ada perasaan plong dalam hati ketika berhasil dikeluarkan kata maaf dari mulutnya. Perasaan malu, gengsi dan lain sebagainya seringkali mengiringi, tetapi semua itu tidaklah seberapa jika pada akhirnya terbayar dengan perasaan hati yang lega luar biasa. Karenanya buang jauh-jauh perasaan seperti itu.

Yang ketiga, tidak selalu perasaan bersalah bisa ungkapkan dengan perbuatan nyata. Karena belum tentu kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Bisa jadi sebelum kita melakukan apa-apa, ternyata kita sudah tidak bertemu lagi dengan orang itu?. Yang ada hanya rasa sesal karena tidak sempat meminta maaf. Berbeda halnya dengan kata maaf, yang sudah pasti bisa kita ucapkan seketika seusai kita berbuat kesalahan.

Yang keempat, dengan kata maaf minimal kita sudah menunjukkan keberanian diri untuk mengakui sebuah kesalahan. Menerima dengan lapang dada resiko ditolak atau diterima permintaan maaf kita. Dimaafkan atau tidak adalah wilayah kewenangan Allah. Yang pasti kita sudah berusaha dan berbuat yang terbaik dari yang kita bisa.

Nah, bukankah hanya dengan kata maaf, kita bisa merubah dunia yang suram menjadi tersenyum. Masihkan kita gengsi untuk mengungkapkannya?


Posted by Ida Latifa Hanum :: 11:34 :: 4 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

21 July, 2005

Marahlah Sebagaimana Mestinya Amarah

Kalau ada pemilihan Miss “Tidak Bisa Marah” di perusahaan tempat saya bekerja, saya mempunyai peluang yang cukup untuk memenangkan kompetisi ini. Bukan karena saya tergolong mampu mengendalikan emosi, hanya saja saya orangnya tidak tegaan kalau orang jawa bilang “nelongsoan”. Dengar orang ribut saja jantung saya bisa berpacu lebih cepat. Orang lain dimarahi, bisa jadi mata saya yang berkaca-kaca. Lebih baik mengalah daripada ribut...."Ya sudahlah, sudah terlanjur, mau gimana lagi...yang penting jangan terulang". Paling hanya itu senjata saya.

Tapi sepertinya saya harus ikhlas melepaskan mahkota ini kepada orang lebih berhak. Beberapa hari yang lalu memang hari yang tidak menyenangkan buat saya. Semua ini berawal ketika saya memerlukan data dari deparment lain. Meskipun saya sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi tidak saja pekerjaan itu disentuh oleh yang bersangkutan. Karena kelalaian teman saya itu, operasional perusahaanpun ikut sedikit terhambat. Saya yang tadinya hanya berniat mengingatkan dia dengan berat hati harus bicara dengan raut muka masam, tidak ramah, dan bicara sedikit keras, karena teman saya dengan nada tinggi terus berkelit dengan alasan yang (menurut saya) mengada-ada dan bahkan keluar dari apa yang seharusnya dibicarakan.

Memang amarah tidak mutlak dilarang, karena itu adalah salah satu dari nikmat Allah yang harus kita syukuri. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengolah amarah itu menjadi suatu berkah dan atau bukan amarah yang mendatangkan musibah dan kebencian antar sesama. Karena marah yang tidak pada tempatnya bisa merusak keimanan dan menghilangkan sifat lemah lembut yang ada pada setiap diri manuasia. Jadi dengan kata lain kita harus pandai memilah-milah, amarah yang seperti apa yang bisa kita amarahkan

Berbahagialah orang yang memiliki kesanggupan untuk menahan diri dari amarah. Bukannya tidak boleh marah, tetapi sebisa mungkin menahan amarahnya. Karena yang dikatakan sebagai juara sejati adalah orang yang mampu menguasai diri dan hawa nafsunya ketika sedang marah. Dan yang paling baik adalah orang adalah yang paling lambat amarahnya, tetapi cepat pula redanya.

"Dan bergeraklah menuju ampunan Allah yang memiliki surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun waktu sempit dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain...."

Untunglah, semuanya segera berakhir dengan manis. Saya hanya berharap, semoga amarah ini tidak membawa luka mendalam pada orang lain, tetapi yang bisa mendatangkan kebaikan untuk ke depan. Ketika saya keluar dari ruangan, seorang teman menyapa "Bisa marah juga to Mbak?'', dengan senyum tersungging di sudut bibirnya. Wah...semakin malulah saya, berarti sudah satu orang meragukan predikat "miss..." saya. "Andai saja saya bisa lebih bersabar...." Semoga tidak terulang untuk kesekian kalinya.


Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:27 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

20 July, 2005

Agar Air Mata Tidak Sia-Sia

Pernah suatu ketika, saya merasakan galau hati yang menyiksa. Ada rasa sakit, perih, kecewa, amarah, putus asa dan lain sebagainya, yang semuanya berkecamuk di dalam dada. Hingga semuanya itu berakhir dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.

Kalau ditanya alasannya, sudah pasti saya tidak bisa menjawab. "Ya pengen nangis aja...karena lagi ga enak hati". Jawaban yang selalu membuat saya tersenyum apabila mengingatnya. Jika sudah tidak ada lagi air mata yang bisa saya keluarkan alias capek menangis, yang terlintas kemudian adalah menyesal karena sudah membuang air mata sia-sia. Padahal tangisan adalah hadiah pertama Allah yang menemani saya ketika pertama kali lahir di muka bumi.

"Sesungguhnya tangisan adalah rahmat Allah yang letaknya di hati..." Maka sudah seharusnya saya berterima kasih dengan memanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika memang demikian, bukankah setiap tetes air mata yang kita keluarkan harus memiliki arti? Dengan kata lain, tangisan dan air mata yang terjadi haruslah semata-mata karena Allah. Tangisan karena memohon diberikan tempat di surga, tangisan karena takut jika kelak kita menjadi salah satu penghuni neraka, dan air mata yang menetes karena mengingat dosa-dosa kita yang sudah menjulang setinggi gunung. Hanya air mata seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang di dalam hati manusia, yang mampu melembutkan hati keras dan membeku.

Semoga Allah memberikan kesanggupan kepada kita semua untuk meneteskan air mata yang dapat mendekatkan diri kita kepada-Nya. Sehingga tidak ada rasa sesal karena sudah tidak mampu lagi menghitung berapa banyak air mata yang bermuara tanpa makna.


Posted by Ida Latifa Hanum :: 07:54 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

16 July, 2005

Jangan Meremehkan Pekerjaan (Orang lain)

Beberapa hari terakhir ini saya menjadi lebih sibuk, karena harus menjalankan double function di perusahaan. Sudah satu minggu ini satu-satunya teman saya di departemen keuangan resign dari pekerjaannya. Kalau biasanya sebagai accounting saya betah duduk di belakang meja, sekarang mesti banyak keluar ruangan untuk menggantikan pekerjaanya sebagai kasir. Mulai dari mengurus pembayaran gaji, hutang piutang vendor, wira-wiri ke Bank, semuanya memaksa saya untuk keluar dari 'sangkar'. Dan yang lebih tidak menyenangkan lagi, kalau dulu saya hanya melihat angka, kini saya harus berhubungan langsung dengan yang namanya duit.

Dulu saya sering cemburu dengan pekerjaan teman saya ini, yang saya nilai hanya itu-itu saja...menghitung uang. Eh ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan. Setelah mengalami sendiri, ternyata menghitung uang itu ribet, apalagi bukan uang kita sendiri. Nominal yang tidak kecil seringkali menyiksa, karena harus bekerja berulang-ulang menghitungnya. Belum lagi kalau waktunya bayar gaji karyawan, uangnya sering terselip ke sana-sini, mesti cek lagi amplop satu persatu. Finally kalau udah nggak bisa menemukan di mana bersembunyinya, dengan berat hati terpaksa harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri alias tekor.

Malu rasanya kalau dulu saya pernah menganggap remeh pekerjaan ini. Ternyata semua pekerjaan itu punya tantangan tersendiri, yang kita tidak akan pernah menyadari sebelum kita mengerjakannya. Sudah seharusnya kita menghargai pekerjaan orang lain, sekecil apapun itu. Karena terkadang sesuatu yang kita anggap sepele ternyata kita sendiri tidak mampu mengerjakannya. Semuanya membutuhkan keahlian terntentu, sentuhan orang-orang khusus yang paham dan mengerti sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Kini saya hanya mencoba belajar untuk bekerja dengan cinta, agar tidak lagi merasa tersiksa dalam melakukan pekerjaan sementara ini. Dengan tetap berharap semoga manajemen perusahaan segera mendapatkan penggantinya...


Posted by Ida Latifa Hanum :: 07:25 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

13 July, 2005

Sebuah Renungan

"Sesungguhnya Umur Bagaikan Dedaunan yang Runtuh, Ia Takkan Kembali pada Pohonnya, * HAPPY BIRTHDAY* May All Your Dreams Come True dan Mendapat Ridho-Nya dalam Setiap Langkah"

Sebait kalimat saya terima dari seorang teman melalui sms tepat jam 12.00 WIB tadi malam.

Iya, hari ini berkurang satu tahun sisa usia saya. Tadi malam saya mencoba merenung kembali, apa yang sudah saya lakukan selama satu tahun terakhir ini. Ada semacam komitmen tak tertulis yang saya berlakukan pada diri saya, setiap kali memasuki usia baru yaitu berusaha menjadi lebih baik dari hari yang kemarin, mencoba untuk lebih cantik dan cantik lagi.

Seperti mengajak saya untuk berjalan menelusuri semua yang telah berlalu, jari-jari tangan ini bermain-main untuk menghitung berapa banyak kebaikan yang telah saya lakukan dan atau justru keburukankah yang menjadi penguasa dalam setiap tingkah laku saya?. Seberapa besar rasa syukur saya selama ini ataukah sebaliknya, begitu banyak limpahan nikmat yang telah di berikan Allah saya sendiri bahkan tidak mampu menghitungnya, lewat begitu saja tanpa makna.

Ada rasa sesal dalam hati ini, ketika menyadari betapa pun saya sudah berusaha memenuhi "target" yang saya bikin dan untuk diri saya sendiri, tetapi tetap saja masih ada pekerjaan rumah yang tidak mampu saya selesaikan. Jika mengingat itu semua, kadang kala saya membenci diri saya sendiri. Menyalahkan diri ini yang sering kali terpedaya dan terpenjara oleh keinginan yang menggebu-gebu. Sungguh, kenapa diri ini tidak mampu menjadi penjaga hati untuk selalu terkendali. Hingga yang tertinggal hanya sesal yang kadang kala semakin membawa saya pada keterpurukan. Jika sudah begini, sadarlah diri ini mengapa Allah menyikapi waktu sebagai "kerugian".

Satu tahun ternyata mampu memberikan berbagai warna dalam kehidupan ini, ada kalanya tenggelam dalam samudera kebahagiaan, terlena dalam buaian indahnya kesenangan semu, terpuruk dalam kepedihan. Bahkan ketika air mata tak lagi tertahan ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan. Semuanya timbul tenggelam seperti buih yang berenang di lautan lepas. Dari semuanya itu saya coba untuk mengambil hikmahnya. Mengambil makna dari semua yang telah Allah berlakukan dalam diri saya, mencoba untuk selalu berkhusnuzon akan segala ketentuan-Nya. Karena saya percaya tidak ada yang sia-sia.

Ya Allah, kini hanya satu pintaku kala menapaki usia baru ini, bimbinglah selalu hati ini untuk tetap melangkah di jalan-Mu, hingga tak ada lagi sesal dikemudian hari. Karena saya sadar, tidak akan pernah mampu diri ini kembali ke belakang dan merubah semua yang telah terjadi, sebagaimana dedaunan runtuh yang tidak akan kembali pada pohonnya. Amien.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 11:55 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

05 July, 2005

Tidak Ada Alasan (lagi) Untuk Takut

"Berani banget kamu!!"..."Ga takut apa ketemu hantu??"..."Gimana kalau diganggu ama orang jahat??"... "Pohon di dekat Taman Makam Pahlawan itu angker lho',, kamu jangan menoleh ke kanan ya..." bla...bla...bla berbagai macam komentar selalu saya dapatkan dari teman-teman ketika setiap kali saya pulang agak malam.

Memang jam 20.00, belumlah dikatakan terlalu malam bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Tapi bagi saya itu sudah "cukup malam" karena kebetulan rumah saya berada di perumahan di pinggiran kota. Jarak sekitar 17 km harus saya tempuh setiap hari untuk mencapai tempat kerja. 5 (lima) kilometer terakhir untuk sampai di rumah harus saya tempuh dengan melalui jalan yang sepi, tidak ada rumah penduduk, hanya ada persawahan, beberapa tempat pemakaman umum, dan lebih parah lagi tidak ada satupun lampu penerang yang menemani perjalanan saya. Pohon-pohon besar di sepanjang tepi jalan, seakan-akan membawa saya memasuki lorong gelap yang menyeramkan.

Jujur saya dulunya adalah penakut kelas berat, apalagi dengan yang namanya setan, hantu blawu dan saudara-saudaranya. Di dalam rumah sendiripun rasa takut itu selalu menyelimuti perasaan saya. Bahkan sekedar ke kamar kecil ketika saya terjaga dari tidur malampun tidak berani saya lakukan. Saya selalu merasa ada yang mengikuti di setiap langkah kaki saya, selalu merasa ada yang mengawasi di semua sudut ruang.

Semua itu perlahan-lahan mulai luntur. Bermula ketika saya bertemu dengan teman yang mengajar di sebuah Pondok Pesantren Putri di Mojokerto. Kalau dilihat dari penampilannya yang bersahaja, kalem dan sedikit pemalu, orang tidak akan percaya kalau dia sebenarnya sosok yang tegas mandiri dan pemberani. Di manapun, kemanapun dan kapanpun dia tidak pernah "merepotkan" orang lain untuk menemaninya.

Pernah saya bertanya tentang keberanian dia ini. "Saya tidak sendiri kok Dik" singkat dia menjawabnya pertanyaan saya. Saya sempat heran, mengapa setiap kali saya tanya jawabnya selalu seperti itu. Suatu hari dia menceritakan pengalamannya yang lumayan "mencekam" ketika dia pulang ke rumahnya di daerah Tarik Sidoarjo seusai mengajar di PPnya. Pada kesempatan itulah rasa penasaran itu saya ungkapkan. "Saya tidak pernah takut karena selalu ditemani sama Yang Di Atas" jawabnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah atas. Sebuah jawaban yang tidak saya duga sebelumnya. Malu rasanya....bagaimana bisa saya tidak memahami maksud dari jawaban-jawaban dia selama ini. Bagaimana bisa saya melupakan Sang Maha Segala yang selalu Melindungi hari-hari saya.

Sampai sekarang saya masih mengingat jelas semua yang dikatakannya. Jangan pernah merasa takut pada apapun sejauh kita melewati waktu tidak untuk sesuatu yang melanggar perintah Allah. Perasaan takut itu ada karena kita selalu membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi dan atau melakukan sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Jangan sampai perasaan takut itu menjadi raja dalam diri kita sehingga mejadi alasan bagi kita untuk diam di tempat tanpa melakukan suatu kebajikan. Tanamkan selalu rasa percaya diri bahwa Allah akan selalu menjaga kita. Lakukan sesuatu yang hanya karena-Nya, sehingga tidak ada lagi rasa takut yang tidak beralasan. Takut dan beranilah hanya karena Allah, begitu dia mengakhiri percakapan kami.

Jadi....tidak ada lagi rasa takut yang bisa menjadi alasan bagi saya untuk menginap di kantor karena kemalaman pulang. Bagi saya Gelapnya malam laksana indahnya temaram kala bulan bersembunyi di balik awan....ehm. Ternyata kalau di nikmati kesendirian dan kegelapan itu bisa menjadi sesuatu yang indah.

"Ya Allah, sesungguhnya dari Engkaulah pagi dan petang ini segala kenikmatan, perlindungan dan penjagaan, maka sempurnakanlah kenikmatan perlindungan dan penjagaan yang Engkau berikan"

Buat Mbak Izzul.....semoga tetap Istiqomah dalam mengajar santriwatinya di Pondok Pesantren.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 15:35 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------