Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

27 August, 2005

Saya Bersyukur Menjadi Wanita

"Seandainya kamu terlahir kembali, pengennya jadi laki-laki atau perempuan?".

Pertanyaan itu sewaktu saya masih duduk di bangku SMA, sering menjadi bahan perdebatan antara teman laki-laki dan perempuan di sekolah. Dan hasil akhirnya, saya dan teman-teman wanita yang lain mengakui bahwa menjadi orang laki-laki jauh lebih menyenangkan. Alasan yang sangat lucu..., karena sebagai wanita nggak bisa main bebas sebagaimana halnya teman-teman laki-laki, yang bisa lebih malam acara di luar rumahnya.

Kemudian adalah alasan beban fisik. Wanita hamil harus tersiksa selama 9 bulan 10 hari dan kemudian harus pula merasakan sakit sewaktu melahirkan. Sedangkan bagi kaum laki-laki hanya merasakan sakit karena dikhitan, itu saja paling hanya beberapa hari. Nah...cukup beralasankan ketika saya dan teman-teman wanita yang lain lebih memilih menjadi laki-laki daripada perempuan.

Sederhana memang, sesederhana ketika mengesampingkan semua kemuliaan yang ada di balik semua itu. Iya...jadi wanita memang ribet. Harus memakai jilbab, mengandung, melahirkan, kemana-mana selalu dikhawatirkan, harus taat pada suami, dalam pembagian warisan harus selalu mengalah dengan kaum adam. Duh...kok kayaknya merasa hidup paling menderita sedunia. Tetapi pernahkah kita mencoba untuk berpikir sebaliknya. Mengurai semua rahasia dibalik penderitaan yang diberikan Allah kepada kaum hawa.

Yang pertama ketika wanita menjadi seorang anak. Sudah pasti akan diperlakukan beda dengan anak laki-laki. Selalu dijaga dengan penuh kelembutan oleh orang tua, diberikan pakaian yang istimewa sebagaimana harta yang tak ternilai harganya. Dalam hal pembagian warisan memang anak perempuan tidak mendapatkan sebagaimana hak seorang anak laki-laki, tetapi bukankah semua itu sebanding dengan hak sepenuhnya atas penghasilan suami?. Adapun harta waris yang didapat orang laki-laki, kemana lagi perginya kalau bukan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya?

Yang kedua wanita sebagai istri, dengan segala peraturan yang mengharuskannya taat dan patuh pada suami. Tetapi ketika seorang wanita melakukan semua itu, maka hal lain yang harus dilakukan suami adalah harus 3 kali taatnya kepada ibu dibandingkan kepada bapaknya. Bukankah ibu juga seorang wanita???. Bahkan seorang wanita hanya dengan menjalankan sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, menjadi istri yang taat kepada suami dan bisa menjaga kehormatannya, Allah menjanjikan surga dari arah pintu manapun yang ia suka.

Yang ketiga wanita sebagai ibu. Mengandung dan melahirkan memang berat, tetapi pada saat itu malaikat dan seluruh makhluk Allah akan mendoakannya. Dan jika meninggal, maka adalah syahid tanpa harus memanggul senjata di medan perang. Kemudian seperti halnya diatas, bahwa sebagai ibu akan mendapatkan ketaatan anak 3 kali lipat dibandingkan kepada seorang bapak. "Seorang anak pernah bertanya kepada Rasulallah,"Siapa orang yang wajib berhak diperlakukan dengan baik?" Rasulallah menjawab, "Ibumu, ibumu, ibumu, lalu Bapakmu...." (HR.Muslim). Dan Bukankah surga juga terletak di bawah kaki ibu? Ini berarti seorang wanita adalah orang yang berpengaruh terhadap seleksi calon penghuni syurga.

Belum lagi dengan keistimewaan kelak di akherat. Ketika tanggungjawab atas dirinya akan ditanggung oleh 4 orang laki-laki. Suaminya, ayahnya, anak laki-lakinya dan saudara laki-lakinya.

Namun hal yang lebih penting adalah, Allah tidak pernah menilai kemuliaan seseorang atas dasar jenis kelamin, tetapi berdasarkan atas ketakwaan dan kepatuhan kepada-Nya. Perbedaan tidak selalu harus diartikan dengan nomer 1 atau nomer 2. Ketika semuanya menyadari akan tugas, tanggung jawab dan kewajiban masing-masing, maka sebenarnya disitu tidak akan kita temukan mana yang berkuasa mana yang dikuasai. Allah telah menetapkan semua sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Yang semuanya berfungsi sebagai alat keseimbangan, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik.

Saya memang belum menjalani semua jabatan itu, tetapi paling tidak saya sudah dan sedang merasakan bagaimana berharganya menjadi anak perempuan. Masya Allah, ternyata begitu besarnya kasih sayang dan penghargaan Allah kepada kaum hawa. Ah.....semoga saya belum terlambat untuk menyampaikan kepada-Nya "Ya Allah....saya bersyukur menjadi seorang wanita"

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:06 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

20 August, 2005

Syirik Membawa Sengsara

Beberapa hari yang lalu, teman satu ruangan saya ijin tidak masuk kerja, karena harus ta'ziah ke seorang tetangga yang anaknya meninggal karena kecelakaan kerja. Ada cerita menarik yang dia sampaikan ke saya setelah masuk kerja lagi keesokan harinya.

"Kasihan banget tuh Mbak, tetangga saya yang anaknya meninggal itu" cerita teman saya ketika mengawali percakapan kami di kantor pagi hari itu.

"Emangnya kenapa Bu...", tanya saya sambil terus memainkan jari-jari di atas keyboard komputer.

"Iya Mbak,....tetangga saya itu sudah janda anaknya banyak banget lagi...5 orang, Mbak, dan semuanya dari kecil sudah harus membantu dia jualan nasi di pasar."

"Nah yang meninggal ini, baru 2 tahun yang lalu lulus SMP, terus kerja di pabrik di Surabaya......,eh kok malah sekarang meninggal gara-gara kena mesin di pabriknya..." cerita teman saya dengan semangat.

Wah, menarik juga kehidupan tetangga teman saya ini. Saya yang dari tadi hanya menanggapi ceritanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer, perlahan mulai memutar kursi ke arahnya.

"Lho...memangnya dia jadi janda karena suaminya meninggal, kok gak ada yang memberi nafkah ke anak-anaknya" tanya saya ingin tahu.

"Nggak Mbak, suaminya di penjara sudah 5 tahun yang lalu,.....makanya dia minta cerai"

Walah...denger penjara langsung nih pikiran saya melayang kemana-mana, biasa... saking banyaknya acara kriminal di TV.

Duh...lha kok sampai di penjara kenapa Bu..."? tanya saya yang semakin tertarik dengan story tetangga teman saya ini

"Suaminya membunuh orang, tetangganya sendiri lagi...." kata teman saya

"Duh.....masalahnya apa, wong sama tetangganya sendiri kok sampai separah itu..." mrinding juga saya mendengar ceritanya.

"Lucu Mbak...hanya gara-gara percaya ama omongannya kyai edan...." ruapanya teman saya ini ikut gregetan juga dengan suami tetangganya

Ooh, ternyata singkat cerita...., ternyata suami tetangga teman saya ini orangnya hoby banget yang namanya sillaturrahmi ke "kyai". Perlu digaris bawahi ya...sudah membudaya di daerah tempat saya kerja ini, semua yang berbau "orang pintar" pasti dipanggil kyai, padahal sebenarnya hanya untuk menghaluskan kata "dukun"Yah.... mungkin juga karena mereka orang awam.

Pada waktu konsultasi spiritual ke gurunya, sang suami ini dikasih tahu sama beliaunya kalau ada seorang laki-laki yang suka dengan istrinya. Nah orang yang suka dengan istrinya itu, pada saatnya nanti akan merusak rumah tangganya. Hanya dengan bermodal keterangan dari sang guru itulah, akhirnya suami tetangga teman saya itu menghabisi nyawa tetangganya sendiri. Astaughfirullah......

Nah alasan tidak masuk akal itulah yang sudah pasti membawanya ke penjara selama 10 tahun dan menjadi hari-hari gelap yang harus dia lewati. Lucu memang, pada akhirnya rumah tangganya berakhir, tetapi bukan karena alasan yang seperti dia khawatirkan....... Ah, andai saja dia tidak mempercayai semua itu.

Yah.....dia harus membalas semua perbuatannya di penjara. Belum lagi dosa-dosanya karena menelantarkan anak dan istrinya. Istri dan anak-anaknya yang sudah menderita masih juga harus terbebani dengan rasa malu akibat perbuatannya. Ditambah lagi jika keluarga korbanpun tidak dengan mudah memaafkan segala kesalahannya.

Duh...ternyata banyak rahasia Allah di balik larangan kenapa kita tidak boleh syirik dengan mempercayai kata-kata dukun, paranormal dan segala macam jenisnya. Semoga ada hikmah dari kisah tetangga teman saya ini.

"Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan ucapannya, sungguh dia telah mengingkari wahyu yang diturunkan kepada Muhammad". (HR Ahmad, Hakim dan Baihaqi, dishahihkan oleh syekh al-Albani dalam shahihul jami' no. hadits 5939).


Posted by Ida Latifa Hanum :: 14:40 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

10 August, 2005

Cantik Luar Dalam (Harus)

Hari Sabtu kemarin saya mendapat undangan pernikahan seorang teman di Ponorogo. Seperti biasa karena daerah saya berada di paling barat dari Jawa Timur, dengan rela harus mengalah transit ke Surabaya dulu untuk kemudian esok harinya berangkat bersama-sama teman yang lain.

Perjalanan Bojonegoro ke Surabaya saya tempuh dengan bus umum. Dari dulu saya memang termasuk orang yang pilih-pilih dalam menentukan tempat duduk dan siapa yang menjadi teman perjalanan saya selama di kendaraan umum. Seperti halnya hari itu, saya memutuskan teman duduk saya seorang ibu setengah baya yang dari cara berpakainnya pastilah beliau seorang muslim. Duduk di bangku belakang driver deretan nomer dua memang favorit saya.

Mungkin karena besoknya hari libur, banyak juga orang yang bepergian. Belum lagi keluar dari kota Bojonegoro, bus sudah mulai banyak terisi penumpang. Uggfffhh...mulai sudah hawa sesak penumpang yang berjubel. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang tiba-tiba meyuruh saya untuk duduk di bangku tengah. Sekilas saya menoleh ke orang yang duduk di sebelah saya. Sedikit deg-degan juga melihat sosok di sebelah saya, seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan kaos you can see-nya lengkap dengan asesoris dan tatoo di lengannya. Tanpa sadar saya sudah mulai memeluk erat barang bawaan saya dan merapatkan diri ke ibu yang duduk di sebelah kanan saya. Sempat dia menanyakan rumah dan tujuan saya. Sengaja hanya saya jawab dengan satu kata setiap pertanyaan yg dia sampaikan, khawatir kalau menjawab panjang lebar malah pembicaraan melebar kemana-mana.

Sesampainya di kota Lamongan sudah tidak ada lagi bangku kosong, beberapa penumpang terpaksa berdiri. Sesaat kemudian masuk seorang ibu dengan bayi di dalam pelukannya dan tangan kanan menggandeng anak kecil sekitar 5 tahunan. Begitu melihat ibu itu masuk ke bus, dengan sigap laki-laki yang duduk di sebelah saya berdiri dan mempersilahkan dengan sopan ibu itu untuk menempati bangkunya....Aihh,ternyata di balik dandanan seramnya, masih memiliki kelembutan hati juga. Sekarang ini sudah jarang ada orang yang rela melakukan hal seperti ini. Sudah salah berprasangka nih....

Akan halnya dengan ibu yang ada di sisi sebelah kiri saya. Secara tidak sengaja ketika membuka botol minum, setetes air mengenai bajunya. "Maaf Bu...", spontan kata itu keluar dari mulut saya. Tidak terdengar satu katapun dari beliau, hanya pandangan matanya yang tidak ramah tertuju ke arah saya sambil terus mengusap satu tetes air yang mengenai bajunya dengan selembar tisyu. Duh...saya memang bersalah....tapi kok sebegitunya ya. Padahal saya yakin hanya dengan satu usapan, sisa tetesan air itu tidak akan membekas di pakaiannya.

Yah, hari itu saya bertemu dengan dua orang yang dua-duanya saya telah salah menilai. Mungkin ini adalah salah satunya mengapa Allah menyuruh kita agar kebaikan yang ada di dalam hati terpancar juga melalui cara berpakaian dan bersikap yang sopan. Demikian juga dengan penampilan di luar yang kita tampilkan, harus di dukung juga dengan kecantikan dari dalam hati. Hhhmm..sudah seharusnya ya kita cantik di luar, cantik juga di dalam. Bukan saja agar orang lain merasa nyaman di dekat kita, tetapi juga membantu orang lain untuk tidak berburuk sangka. Termasuk untuk orang seperti saya ini.....he...he...

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:29 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

01 August, 2005

Jangan Ragu Untuk Mencoba

Sebenarnya cita-cita saya dulu pengennya menjadi guru. Alasannya pada saat itu simple saja, karena menurut saya mengajar itu ladang amal yang cukup menjanjikan dan yang pasti nggak cepat bosen dengan pekerjaan karena bertemu dengan banyak orang.

Mungkin karena niatnya baik…ehm, Allah mendengar doa saya ini. Belum sampai wisuda atas kelulusan saya, tawaran mengajar datang dari teman ayah saya. Kebetulan sebuah sekolah menengah atas di tempat beliau mengajar membutuhkan guru Akuntansi. Jadi dia meminta saya untuk mengisi posisi kosong itu, meskipun hanya sebatas guru tidak tetap.

Yah...namanya juga baru lulus, perasaan malu, tidak percaya diri dan lain-lain masih melekat kuat di dalam diri saya. Selain itu juga karena sekolah saya bukan kategori "kependidikan", meskipun jurusannya sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan berat hati akhirnya tawaran itu saya tolak. Saya khawatir tidak mampu mengemban tugas itu. Tetapi hati saya tetap berharap suatu saat nanti jika saya sudah punya ilmu yang cukup, saya akan menerima tawaran itu.

Setelah menolak tawaran itu, sebenarnya saya sendiri juga bingung, bagaimana saya bisa belajar mengajar tanpa ada medianya. Ditawarin mengajar nggak mau... belajar mengajar nggak tau mesti belajar kemana..... Akhirnya secara perlahan-lahan saya mulai melupakan “cita-cita” itu, karena kebetulan saya diterima di tempat kerja lain. Dan selain itu, tawaran mengajar untuk kedua kalinya juga tidak pernah lagi datang menyapa saya.

Bukannya menyesali, wong mungkin memang jalan saya bukan menjadi guru. Hanya saja kalau mengingat kejadian itu, membuat saya berpikir kenapa dulu saya menolak tawaran baik itu? Kalau hanya masalah tidak percaya diri, merasa belum mampu dan sebagainya bukankan bisa kita pelajari sembari kita melakukannya, yah...istilahnya learn by doing dan doing by learn... begitu kira-kira. Harusnya pada saat tawaran itu datang saya berpikir positif saja. Ketika seseorang memberikan sebuah kepercayaan kepada kita, pastilah adalan alasan tertentu mengapa dia menawarkannya kepada kita . Hanya sayanya saja yang tidak mempunyai keberanian untuk mencoba. Padahal tidak ada salahnya kan mencoba sesuatu yang baru, minimal kita punya pengalamanlah....

Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa sesuatu tidak akan muncul begitu saja di dalam diri kita tanpa kita mau menggali dan mencoba potensi yang sudah kita miliki . Tidak mungkin menjadi seorang expert dalam suatu bidang, kecuali dengan memulai dari angka nol. Segalanya memerlukan keberanian, ketelatenan, dan kemauan yang kuat untuk mencapainya.

Sayang sekali rasanya jika kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jika Allah telah memberikan anugerah-Nya melalui kelebihan pada setiap umatnya. Maka, urusan mengembangkan dan memanfaatkannya adalah menjadi tugas kita. Tinggal bagaimana niat dan usaha kita untuk menjadikan semua itu menjadi sesuatu yang berharga. Karena keberhasilan seringkali menghampiri orang-orang yang memiliki kemauan, bukan kemampuan.


Posted by Ida Latifa Hanum :: 14:20 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------