Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

29 October, 2005

Lebaran Tanpa Berlebihan


Lebaran memang selalu dinantikan kedatangannya oleh seluruh ummat Muslim sedunia. Dari mulai orang kaya sampai orang miskin, dari anak-anak sampai orang tua, dari dengan cara paling mewah sampai cara yang paling sederhana. Semuanya tidak dilarang, karena itu semua juga sebagai salah satu wahana syiar Islam. Tetapi yang paling penting, batasan apa yang perlu kita perhatikan sehingga kebaikan kita lakukan tidak berubah menjadi sesuatu yang tidak disukai Allah.

1. Niatkan dengan hati yang Bersih.
Luruskan niat dalam merencanakan segala acara penyambutan hari kemenangan ini. Dari mulai kebutuhan pribadi, keluarga, penyediaan suguhan untuk para tamu, pembagian hadiah untuk tetangga ketika sillaturahmi ke kampung dan sebagainya. Semua mesti kita kita cermati. Kalau perlu kita tanyakan berulang-ulang pada hati nurani kita, apakah semuanya benar-benar didasari niat tulus, tanpa terselip di dalamnya rasa iri, dengki, riya, apalagi sombong ingin menunjukkan kelebihan kita kepada orang lain, bahkan hanya untuk sekedar mendapatkan pujian "wah" saja. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan selama satu bulan untuk mengendalikan hawa nafsu, hilang begitu saja hanya karena kesenangan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

2. Rayakan Idul Fitri sebatas kemampuan
Yang paling penting adalah, tidak membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain. Syukuri apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Rayakan pesta sesuai dengan kemampuan kita. Apalagi sampai mempersulit diri dengan mencari pinjaman ke sana-sini. Islam tidak menganjurkan sesuatu yang berlebih-lebihan. Semua ini bukan berarti kita bersifat batil, tetapi mengajarkan kita untuk bersifat sederhana. Kelebihan uang akan lebih bermanfaat bila disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan, sehingga kebahagian lebaran bisa dirasakan pula oleh orang lain. Bukankan ini akan menambah kemeriahan pesta kemenangan?

3. Mempersiapkan rumah dan keluarga
Hari istimewa akan lebih bermakna jika beberapa hari sebelum lebaran kita sudah mempersiapkan rumah kita. Tidak harus dengan mengganti perabotan rumah tangga. Tetapi minimal rumah kelihatan lebih bersih dan indah. Islam sangan mencintai kebersihan dan keindahan. Yang paling penting, apa yang terdapat di dalam rumah, bukanlah sesuatu yang dilarang di dalam Islam, seperti patung-patung atau gambar-gambar yang mengumbar aurat dan sejenisnya. Usahakan nuansa Islam bisa dirasakan oleh tamu yang bersilaturrahmi ke rumah kita.

4. Mempersiapkan Ibadah Hari Raya
Karena ibadah Sholat ID dilaksanakan pagi-pagi sekali, maka seyogyanya kita sudah persiapkan semua pada malam hari. Apalagi kalau anggota keluarga kita banyak. Alat-alat sholat seperti tikar, sajadah, mukena dll akan lebih membantu jika sudah disiapkan ditempatnya. Hindangan untuk tamu lebih baik disiapkan sebelum berangkat Sholat ID, karena kebanyakan orang biasanya selesai sholat ID langsung berkunjung untuk sillaturahmi. Yang tidak kalah penting, ibadah sholat wajib tetap dijaga waktunya. Jangan sampai kegembiraan Idul Fitri membuat kita lupa mengerjakannya. Apalagi kalau bertepatan dengan Hari Jum'at, jangan sampai terlewat ibadah sholat wajib bagi kaum adam.

5. Persiapan Sillaturahmi
Bermaaf-maafan dan saling bersillaturahmi memang sangat dianjurkan dalam hari raya ini. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu. Penampilan tidak perlu berlebihan, yang penting sopan dan bersih. Ingatkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan selama berkunjung ke rumah orang lain dan tidak sekedar mengharapkan pemberian uang dari tetangga. Kalau ada keluarga kita yang berada di luar kota, usahakan acara mudik tidak melanggar syariat. Meskipun harus berebut kendaraan umum, usahakan tetap menjaga aturan hijab. Jangan sampai terabaikan keselamatan anak dan istri.
ooOoo

Untuk semua Sahabatku,... "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:03 :: 4 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

22 October, 2005

Antara tarawih, tugas sekolah dan anak-anak


Bulan Ramadhan dan Sholat Tarawih, adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada yang tidak berubah dari ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar lebih dari 10 tahun yang lalu, hingga saat ini. Setiap ramadhan tiba, tarawih menjadi salah satu aktifitas yang tidak bisa saya tinggalkan, karena ada kewajibkan mengisi buku kegiatan selama bulan Ramadhan yang diberikan oleh sekolah. Tidak hanya merangkum materi kultum, tetapi saya juga harus mendapatkan tanda tangan pengisi materi dan imam sholat, sebagai bukti otentik telah mengikuti sholat tarawih.

Ternyata kegiatan yang bertujuan membiasakan anak agar rajin beribadah ini masih berjalan sampai saat ini. Tetapi, seringkali justru jama’ah di masjid terganggu dengan kehadiran anak-anak kecil. Masjid menjadi seperti arena bermain baru bagi mereka. Kalau biasanya bermain hanya siang hari, pada saat ramadhan mereka dapat bertemu kembali saat ikut dalam menjalankan ibadah sholat tarawih malam harinya. Namanya juga anak-anak, meskipun sudah diingatklan berkali-kali tetap juga masih terdengar suara mereka tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Apalagi saat kultum, bisa dipastikan

Saya jadi ingat kejadian yang sama waktu Ramadhan tahun kemarin. Pernah suatu ketika, imam sholat tarawih memberikan peringatan kepada anak-anak, bahwa siapa pun yang ramai tidak akan mendapatkan tanda tangan dari imam yang bertugas.. Awalnya bagus juga, mereka menurut dan saling mengingatkan satu sama lain. Tetapi itupun tidak bertahan lama, ujung-ujungnya tetap saja mereka bikin keributan. Akibatnya para imam malah semakin dibuat bingung, siap yang berhak mendapatkan tanda tangan dan siapa yang tidak. Mereka bingung untuk membedakan yang mana selama sholat berlangsung menjadi anak manis dan mana yang hanya bermain-main saja. Anak-anak ini saling menyalahkan satu sama lain, dan membela diri bahwa mereka tadi telah bersikap baik.

Hari berikutnya, peraturannya berubah. Apabila masih terdengar suara becanda pada saat sholat , Iman tidak akan memberikan tanda tangannya kepada satu orangpun. Tidak perduli siapa yang ramai dan siapa yang tidak. Tidak adil memang, tapi mau bagaimana lagi, siapa yang bisa mengontrol pada saat semuanya sedang sholat.

Keesokan harinya, di luar dugaan, anak-anak ini mempunyai cara lain untuk mendapatkan tanda tangan sang imam. Mereka datang bersama orang tuanya justru datang secara langsung ke rumah imam sholat. Uniknya lagi, semua orang tua mereka menyayangkan kejadian itu. Sebagai orang tua mereka merasa anaknya telah menjadi menjadi “korban”. Nah…semakin bingungkan untuk menilai, siapa yang salah.

Untuk menghindari kejadian seperti tahun kemarin, pelaksanaan sholat tarawih kali ini sedikit berbeda. Kalau dulu, anak-anak diharuskan berada pada shaf-shaf belakang, sekarang tidak lagi. Sebaliknya, anak-anak disarankan untuk sholat di dekat orang tuanya masing-masing. Yang pertama supaya apabila mereka ramai, orang tuanya dapat langsung mengingatkan. Selain itu juga untuk menghindari kesalah pahaman antar orang tua, apabila anaknya ditegur oleh orang lain . Yang kedua, sengaja memisahkan anak-anak, agar tidak ada teman yang bisa diajak bicara dan bercanda. Intinya, setiap anak-anak sebisa mungkin didampingi oleh orang tua masing-masing.

Lumayan juga hasil dari strategi kali ini, meskipun belum maksimal. Namanya juga anak-anak masih saja ada yang tidak mengindahkan. Hanya berusaha dan berdoa….semoga untuk masa mendatang, anak-anak ini bisa menjadi lebih patuh dan taat dalam menjalankan ibadah. Atau teman-teman ada saran lain untuk kejadian seperti ini?


Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:22 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

15 October, 2005

Kaya Namun Sederhana (Sebuah Teladan Ummar Bin Abdul Aziz) - Tamat

Ummar Bin Abdul Aziz telah mengembalikan harta umat pada fungsi yang sebenarnya, yaitu melayani kebutuhan umat dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia menetapkan bahwa baitul maal merupakan lembaga yang bertanggung jawab untuk itu. Segala tindakan itu disampaikan kepada para gubernurnya seperti di bawah ini, bahwa setiap muslim harus memiliki:
1. Sebuah rumah sebagai tempat tinggal
2. Seorang pembantu untuk meringankan pekerjaannya.
3. Seekor kuda untuk berjihad menghadapi musuhnya.
4. Perabot rumah tangga seperlunya.
5. Memenuhi semua kebutuhan mereka
6. dan barang siapa mempunyai hutang, maka bayarlah.

Khalifah memerintahkan kepada para gubernur untuk melaksanakan program tersebut di wilayah masing-masing dan biaya diambil dari Baitul Maal setempat. Sedangkan kelebihannya disimpan atau dikirimkan ke pusat. Sementara wilayah-wilayah yang minus dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya, mendapat bantuan secepatnya.

Bahkan dalam sebuah amanatnya, sang khalifah ini berkata:
"Pendapatan hendaklah dihimpun dan dibagikan secara adil. Kalau mencukupi untuk semua warganya, itulah yang paling baik. Kalau tidak cukup, segeralah kirim berita kepada saya agar secepatnya saya kirim bantuan untuk memenuhi kebutuhan mereka."

Kemudian, Khalifah juga membangun wisma-wisma di seluruh negeri yang diperuntukkan bagi para musafir dan ibnu sabil. Para karyawan memperoleh gaji yang cukup. Bagi mereka yang gajinya tidak mencukupi, dinaikkan. Ulama dan cerdik pandai mendapatkan jaminan kebutuhan hidup, agar mereka dapat memusatkan perhatian dalam bidang mereka tanpa harus mengharapkan uluran tangan orang lain sebagai upah. Para gubernur mendapat gaji dan tunjangan yang layak, sehingga mereka tidak lagi terpikat untuk korupsi atau terlibat dalam suap dan pungutan yang haram.

Bagi mereka yang buta diperintahkan agar disediakan seorang penuntun atas biaya negara. Semua anak yatim yang tidak mempunyai saudara, ditampung dan dibiayai hidupnya oleh negara. Ia juga memerintahkan agar setiap bayi lahir diberi tunjangan dan baru dihentikan setelah tidak disusui lagi oleh ibunya, sehingga para ibu tidak ingin cepat-cepat menyapih penyusuan anaknya. Karena itu bayi pun dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat, kuat dan cerdas.

Kalau kita mau menggalakkan hidup sederhana bagi para pejabat, Khalifah Ummar Bin Abdul Aziz adalah teladan. Yang dia pikirkan hanya bagaimana mensejahterakan rakyat dan orang lain, sedang kepentingan pribadinya masuk daftar yang terakhir. Itulah zuhud sejati, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada jamannya, amanah rejeki Allah benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk menikmati kehidupan dunia yang sederhana tapi bahagia. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan secara materiil belaka, tetapi juga mengisi jiwa mereka dengan harga diri dan qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada). Mereka tidak lagi iri, tamak dan tergiur dengan harta orang lain. Kehidupan qana'ah seperti inilah yang diajarkan dalam Islam. (Ar-Rohmah)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 09:13 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

12 October, 2005

Kaya Namun Sederhana (Sebuah Teladan Umar Bin Abdul Aziz) - 1

Zuhud tidak berarti anti duniawi. Tetapi seringkali kata ini ditafsirkan bahwa umat Islam anti kepada keduniawian. Hal ini sebenarnya justru menguntungkan orang-orang kafir dan tentu saja merugikan kaum muslim sendiri. Karena penafsiran yang salah bisa mengakibatkan dunia dikendalikan oleh orang-orang kafir.

Umar Bin Abdul Aziz, seorang Khalifah Bani Umaiyah, menjawab semua itu melalui sejarah kepemimpinannya. Ia bisa meletakkan dirinya dengan tepat ditengah kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Ia bukan anti harta, semua ini dilakukannya agar selamat dari malapetaka dunia dan akherat, serta tercapainya kesejahteraan umat yang dipimpinnya. Ia bukan menolak untuk menikmati harta dengan dasar syukur kepada Allah dan Ia juga tidak pernah mengharamkan harta yang halal bagi dirinya. Ia bahagia dengan kesederhanaan meskipun kekayaan itu sebenarnya ada. Sebagai seorang Khalifah, tentu saja dia ingin memberikau teladan kepada penguasa-penguasa di bawahnya, agar dalam kesederhanaannya selalu tersimpan cita-cita dan keinginan luhur untuk menghantarkan mereka selamat di dunia dan di akherat. Ia sangat memegang prinsip, bahwa harta adalah amanah Allah yang harus dihormati, dijaga, dihambur-hamburkan untuk kepentingan pribadi dan tidak memberikan manfaat sama sekali kepada masyarakat.

Untuk mengurus negara, Umar seringkali kerja lembur hingga larut malam. Karena untuk kepentingan negara, ia menggunakan fasilitas yang dibiayai oleh negara (Baitul Maal). Tetapi jika ada salah satu anggota keluarganya datang untuk membicarakan masalah yang bukan kepentingan negara, Umar akan mematikan lampu penerangan negara, dan menggantikannya dengan lampu pribadi yang telah ia sediakan.

Bagi kebanyakan orang, menilai bahwa tindakan umar terkesan pelit dan ketat terhadap pemakaian kekayaan. Apalagi jika melihat negara yang ia pimpin adalah negara yang besar dan kaya. Tetapi yang menjadi persoalan bukanlah masalah besar atau kecilnya biaya negara atau pelitnya seorang penguasa. Tetapi terletak pada kesucian harta kekayaan yang mesti dipelihara dengan rasa tanggung jawab. Umar yakin bahwa pemborosan yang semula hanya penggunaan kertas, tinta dan hal-hal kecil lainnya, pada akhirnya akan berkembang tidak terkendali.

Ia tidak peduli ketika orang menilai dirinya adalah Khalifah yang pelit, asalkan demi alasan anti pemborosan. Bukankah hal itu akan lebih mulia daripada pemborosan yang tidak beralasan? Lebih-lebih hanya untuk kepentingan pejabat. Lalu usaha nyata apa yang telah dilakukan Umar dalam mengemban tugas mulianya sebagai pemimpin umat? (Ar-Rohmah)


Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:48 :: 4 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

08 October, 2005

Demi Masa

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
(Raihan)

Mumpung lagi bulan Ramadhan, yuk kita perbaiki segala kesalahan dan dosa-dosa kita di masa lampau. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang merugi...

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:17 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------