SMS dengan nada yang sama, lebih dari satu kali saya terima dari teman-teman, beberapa waktu yang lalu.
Sepenggal kalimat di atas mengingatkan pada seorang teman lama saya yang pernah melakukan aborsi. Ketika itu saya benar-benar kaget mendengar penuturannya. Saya mengenal dia ketika ditempatkan di kantor cabang di Bali. Teman saya ini orang Bali. Dengan darah Belanda yang mengalir di tubuhnya, tidak mengherankan jika dia memiliki wajah yang cantik dan kulit yang bersih. Pertama kali melihatnya saya menilai dia sosok yang tertutup, dan cenderung menyendiri. Saya memang baru mengenalnya, itupun tidak lama, hanya 3 bulan, karena memang cuma sebentar di tempatkan di Bali. Namun yang mengherankan, dia dengan tanpa beban membacakan lembaran hidupnya di hadapan saya, seperti menemukan tempat untuk berkeluh kesah.
Dulu, sebelum dia menceritakan tentang pengalamannya melakukan aborsi, saya sering diskusi dengan dia tentang pergaulan bebas dengan segala tetek bengeknya. Semua itu kerap kali menjadi bahan perdebatan karena pandangan kami yang selalu berseberangan. Dia mengatakan kalau saya ini orang kuno dan munafik karena tidak mengakui indahnya pergaulan bebas. Satu kalimat dia yang sampai sekarang masih terekam dengan baik di dalam memori saya "Sekarang ini jaman modern Fa (Tifa begitu dia memanggil saya), orang juga nggak bakalan bisa bedakan mana yang virgin mana yang nggak".
Di luar dari semua itu, ada hal yang menarik perhatian saya setiap kali dia curhat pada saya. Dari cara bicaranya kelihatan sekali dia memiliki rasa khawatir yang berlebihan. Bahkan bisa dibilang orangnya cenderung selalu merasa takut dan cemas.
Hingga suatu hari saya mendengar dari seorang teman kalau dia masuk RS karena Over Dosis. Beberapa hari kemudian saya mencoba menghubunginya sekedar untuk mengetahui keadaannya. Dari sinilah pertanyaan atas rasa takutnya yang berlebihan sedikit mulai terjawab. Akhirnya ceritapun mengalir. Ternyata dia berusaha bunuh diri karena ditinggalkan oleh kekasihnya. Dan itu bukan kali pertama dia melakukannya. Semua dia lakukan dengan harapan sang kekasih kembali kepadanya. Berlebihan memang, tetapi itu yang terjadi sebenarnya.
Sebelum kejadian itu, beberapa bulan sebelumnya dia baru saja melakukan aborsi. Dan ternyata pengaruh terhadap kesehatan dan mentalnya sungguh luar biasa. Hingga dia harus mondar-mandir ke dokter minimal 3 kali dalam 1 bulan. Saya memang tidak paham secara medis bagaimana, tapi yang pasti dia mengatakan kepada saya bahwa setelah peristiwa itu, lambungnya menjadi sangat sensitive, bahkan terakhir dia mengatakan kepada saya, ginjalnya mulai bermasalah karena terkena racun akibat obat-obatan yang harus dia konsumsi pasca aborsi.
Belum lagi rasa berdosa, rasa takut dan khawatir kalau-kalau kekasihnya akan meninggalkan selalu menghantui perasaannya. Bahkan dia sendiri mengakui kalau sifatnya banyak berubah, dan yang paling terasa adalah emosinya yang tidak stabil. Semua perasaan itu memacu produksi asam lambungnya, hingga membuat kesehatannya benar-benar turun secara drastis. Beberapa kali dia pingsan di kantornya hanya gara-gara ditegur oleh atasannya. Bahkan masalah kecil saja tidak sangguh dia menerima dan menyelesaikannya. Kadang-kadang saya kasihan setiap kali mendengar dia mengeluh harus mengeluarkan biaya banyak untuk pengobatannya.
Ternyata benar, aborsi tidak hanya membahayakan secara fisik. Tetapi lebih daripada itu, yang paling fatal adalah trauma pasca aborsi yang tidak mudah bisa hilang begitu. Bahkan kepada orang yang mengganggap dirinya sebagai seorang modern dan menjunjung tinggi pergaulan bebas. Tetap saja perasaan itu datang dan menghantui, pun ketika dia sudah berusaha untuk menghindar dan mengabaikannya.
Yah....semoga partisipasi saya melalui SMS ada manfaatnya. Memang hanya satu kali SMS, tetapi tetap berharap semoga bisa memberikan pengaruh terhadap hasil rapat wakil-wakil kita. Walaupun mungkin hanya sebesar butir-butir pasir di hamparan pantai. Bukankah semua berawal dari yang kecil?
kemudian sang raja bertanya kepada seorang tentaranya yang pernah ditawan oleh kaum muslimin, “Jelaskan kepadaku tentang mereka”. Dengan penuh penjiwaan sang terntara tadi menjawab, “Tuan! Saya akan gambarkan kepada Tuan seakan-akan Tuan melihat mereka”. “Mereka adalah penunggang kuda liar di waktu siang dan rahib (ahli ibadah, pendeta-red) di waktu malam”, tuturnya dengan wajah berbinar-binar. Kemudian dia melanjutkan, “Mereka tidak akan memakan makanan di daerah kekuasaannya melainkan dengan membayar sesuai harganya dan tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan perdamaian”. Dan mereka tidak menyerang sebelum diserang”, lanjutnya menutup pembicaraan. Mendengar perkataan tentaranya itu Heraklius sang raja berkata, “Kalau yang kau katakan itu benar, niscaya mereka akan menduduki tempat berdirinya kedua kaki ini.” (Disadur dari Al Bidayah Wannihayah, Ibnu Katsir)
Bizantium gempar!!! Kekaisaran Romawi mendapat pelajaran yang amat menyakitkan. Ada berita bahwa pasukan Romawi dikalahkan oleh Muslimin di Athokia. Demi mendengar berita tersebut Heraklius sang raja geram dan terlihat amat marah. Sambil meremas-remas jari jemarinya ia berjalan mondar-mandir mengelilingi istana megahnya.
Wajahnya mengernyit hingga tulang pipinya terlihat menonjol. Ia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru menimpa pasukannya. Bagaimana mungkin pasukannya dikalahkan oleh musuh, padahal jumlah mereka jauh lebih kecil. Bagaimana mungkin bala tentaranya mundur, padahal strateginya dibuat dengan perhitungan super cermat. Apa gerangan yang menyebabkan kelemahan anak buahnya di lapangan? Diambilnya tongkat kerajaan dan ditunjukkan kepada seorang hulubalang sebagai isyarat untuk memanggil pasukannya. Tak lama berselang sang komandan lapangan dan sebagian pasukannya masuk istana. Mereka terlihat amat malu.
Dengan wajah merah padam sang raja membentak pasukannya, “Celakalah kalian, kalian kabarkan tentang pasukan yang memerangi kalian, bukankah mereka juga manusia seperti kalian?”. “Benar Tuanku” jawab mereka dengan kepala tertunduk. Heraklius semakin terheran-heran. Sambil menunjuk salah seorang di antara mereka ia bertanya lagi, “Apakah kalian yang lebih banyak atau mereka?”. “Maaf Tuan, bahkan jumlah pasukan kita selalu berlipat ganda dari mereka di setiap negeri yang kita duduki”, jawabnya dengan sedikit takut dan minder.
“Lalu apa yang menyebabkan kalian kalah?”, tanyanya sambil memainkan tongkat. Sang tentara membisu tidak tahu harus menjawab apa, demikian pula yang lain. Semua diam lantaran takut, cemas, dan tidak tahu harus ditaruh di mana muka mereka. Tiba-tiba berdirilah seorang dari mereka yang sudah tua, ia tampak lusuh, pakaiannya pun compang-camping lalu berkata, “……” (Disadur dari Al Bidayah Wannihayah, Ibnu Katsir)
Ingin tahu penyebab kekalahan Romawi? Tunggu aja kelanjutannya…
Tetapi sejak beberapa waktu terakhir ini saya mengamati, setiap kali ada peringatan hari besar keagamaan atau peristiwa bersejarah yang jatuh pada hari kamis atau sabtu selalu berpindah menjadi hari jum’at. Seperti halnya hari ini. Peringatan Isra’ Mi’raj yang semestinya jatuh tepat pada hari ini kamis, 01 September 2005, tetapi kita baru akan libur besok pada tanggal 02 September 2005. Memang tidak semua kalender sama dalam setiap memberikan penjelasan. Tetapi cobalah untuk mengamati kalender yang dikeluarkan oleh dinas-dinas yang terkait dengan pemerintah. Kebanyakan di situ dituliskan : 01 September 2005 (27 Rojab) Hari Isra’ Mi’raj diperingati tanggal 02 September 2005.
Berawal dari penuturan kakak saya yang bekerja di Kantor Departemen Agama dan ditugaskan mengajar di sebuah Madrasah Aliyah. Beberapa kali dia mengeluh kepada saya kalau bidang pelajaran yang dia ajarkan sering ketinggalan. Jadwal pelajaran yang jatuh pada hari sabtu seringkali menjadi hambatan penyampaian materi, karena banyak muridnya yang ikut-ikutan meliburkan diri dengan alasan malas. "Hari Kejepit Nasional" begitu mereka mengistilahkannya. Belum lagi dengan fasilitas pelayanan yang terganggu karena beberapa pegawai sekolah yang notabenenya juga PNS, sehingga mendapatkan juga fasilitas tanggal merah ini.
Dilema memang. Tetapi bukan tidak mungkinkan untuk membuat kebijakan yang lebih fair bagi semua pihak? Sungguh sangat disayangkan, ketika beberapa pihak yang menikmati libur panjangnya, tetapi disatu sisi secara tidak sadar sudah memberikan proses pembelajaran yang tidak baik. Namanya juga kebijaksanaan, sudah pasti harus bijaksana bukan bijaksini. Kasihan kan kalau generasi kita harus tulalit hanya karena kebijakan yang tidak bijak.
Saya memang bukan orang yang merasa sangat terganggu dengan kebijakan pemindahan tanggal merah ini, toh tetap saja saya harus ngantor pada hari sabtu. Tapi sebagai warga negara Indonesia, saya kan juga pengen semua diperlakukan adil. Kalau memang liburnya jatuh pada hari sabtu ya hari sabtu saja, tidak perlu dipindah-pindah.... ya itu yang mungkin namanya rejeki. Kecuali kalau libur yang seharusnya hari Sabtu, dipindah menjadi hari Jum’at, baru saya merasa kecewa karena sudah pasti akan merugikan saya…he…he….