“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” Sebuah kalimat yang sederhana, namun sangat sarat dengan makna. Mencoba berpikir ke belakang, setelah lebih dari ¼ abad menjalani kehidupan ini, apakah saya telah memberikan manfaat kepada orang lain? adakah hal berarti pernah saya lakukan dalam masyarakat sekitar?.
Dalam sebuah tauziah Aa Gym yang disampaikan di televisi pada bulan Ramadhan beberapa waktu yang lalu, mengatakan bahwa untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, manusia harus berani mengakui kekurangan diri. Karena jika tidak, itu berarti menipu kita telah diri sendiri. “Merasa mulia padahal hina, merasa terhormat padahal murahan, merasa tinggi padahal rendah”.
Tanpa bermaksud merendahkan, tetapi untuk mempermudah dalam pemahamannya, beliau mengklasifikasikan tipe-tipe manusia sebagai berikut:
Teman, pernahkan kita berpikir hal berarti apa yang telah kita lakukan untuk orang lain selama ini? Sudahkan kita mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri? Sungguh malu rasanya, begitu banyak kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk berbuat baik lewat begitu saja, karena kita lebih mementingkan kesenangan pribadi daripada membantu saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita.
Beberapa hari lagi tahun 2005 akan segera berakhir dan meninggalkan kita semua. Maha besar Allah dengan segala kuasa-Nya, menentukan umur makhluk-Nya. Semoga kita masih diberi kesempatan di tahun mendatang untuk bisa berbuat lebih banyak, selalu beribadah, bertaqwa kepada-Nya dan bersyukur dengan berusaha menjadi lebih baik dengan belajar dari pengalaman yang telah lalu.
Nah teman, termasuk dalam klasifikasi yang manakah kita, semua tergantung pada diri kita sendiri. Karena itu adalah pilihan.

Ibu, setiap keringat yang engkau teteskan adalah bukti kesungguhanmu dalam merawat kami. Setiap nafas yang engkau hembuskan adalah doa tulusmu tanpa syarat untuk keselamatan kami di dunia dan akherat. Setiap sujud panjangmu adalah harapanmu kepada Sang Khaliq agar kami menjadi orang yang selalu berada di jalan-Nya
Ibu, betapa mentaripun tak mampu menyamai kehangatan dekapanmu. Betapa berjuta keteduhan di bumi ini, tak satupun yang seteduh tatapan matamu. Bahkan ketika kerapuhan menyapa di usia senjamu pun, tak mampu menghalangi aliran cinta dan kasih yang kau berikan kepada kami.
Padahal, berapa banyak air matamu yang mengalir karena kata-kata kami yang menghiris hatimu. Betapa sering degup jantungmu berdetak kencang karena seringkali apa yang kami lakukan selalu menentangmu. Betapa kesabaranmu selalu teruji, ketika acapkali mendengar kami membantah semua nasehat-nasehat mutiaramu.
Ibu, kami sadar tidak akan pernah kami mampu membalas semua yang telah engkau berikan kepadamu, pun sebesar butir-butir debu di tepian pantai. Tetapi ijinkanlah kami untuk tetap merasakan kelembutan belaianmu, merasakan sejuknya biru telaga matamu dan membawa serta senyum tulusmu dalam mengarungi kehidupan ini.
Selamat hari ibu, Ibu. Sungguh kerinduan ini akan selalu bermuara kepadamu, karena cinta dan kasihmulah yang ampuh mengobati segala segelisahan, keresahan dan segala bentuk ketakutan kami. Hanya doa tulusmu Ibu, yang bisa menuntun kami untuk selalu bersikap lurus.
Ya Allah….ijinkan dan berikanlah kami waktu, agar kami bisa berbuat sesuatu untuk membalas kebaikan ibu kami, walaupun itu tidak akan pernah sebanding. Jangan biarkan kami lalai, hingga penyesalah itu datang ketika tidak ada lagi ibu di sisi kami.

Ada cerita menarik yang saya dapatkan dari seorang teman, ketika saya ditempatkan di Bali beberapa waktu yang lalu. Menurut sebagian masyarakat sana, bunga kamboja putih yang memiliki mahkota sebanyak 6 helai, ternyata memiliki keistimewaan di bandingkan dengan yang hanya bermahkota 5 seperti pada umumnya. Dengan memakan mahkota bunga ini, maka apa yang menjadi keinginan kita akan terkabul.
Lucu juga ya... Bagi saya yang lebih menarik adalah ketika mencari bunga kamboja berkelopak 6 ini, karena memang sulit sekali mendapatkannya. Kita mesti jeli dan sabar, bahkan terkadang sampai capek menengadah ke atas tapi tidak satupun bunga ini bisa kita dapatkan di satu pohon. Kalau bisa menemukan, wah…seneng banget, karena dengan kelopaknya yang lebih banyak, bunga ini kelihatan lebih cantik dibandingkan bunga yang lainnya
Pernah suatu ketika adik teman saya ini akan melakukan test kerja di Pertamina. Kemudian dia mengajak saya untuk menemaninya mencari bunga ini di dekat kantor. Kebetulan di samping kantor saya ada sebuah pura yang pohon kambojanya menjulang tinggi dan melewati tembok kantor. Dengan leher lumayan pegel, akhirnya berhasil juga teman saya ini mendapatkannya, dan itupun hanya 1 bunga. Sesuai dengan syaratnya, adiknya harus memakan, sehari sebelum test dilakukan.
Saya sebenarnya sudah lupa dengan cerita tentang bunga kamboja ini, kalau saja teman saya ini tidak memberitahukan bahwa saudarnya berhasil diterima di pertamina, dan sekarang di tempatkan di Sulawesi. Dengan wajah penuh dengan keceriaan, dia bilang ke saya…”Thanks ya Mbak, udah menemani mencari bunga kamboja bermahkota 6, adikku akhirnya diterima juga di Pertamina…”
Nah lho….boleh percaya boleh tidak. Kalau tidak, memang begitulah seharusnya….