Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

27 February, 2006

Sepenggal Kisah Dari Pulau Dewata

SEPENGGAL KISAH DARI PULAU DEWATA

Sudah selayaknya aku bersyukur. Predikat pengangguran tidak sempat kusandang, karena setelah menyelesaikan kuliah di Malang, ada teman yang menawariku pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang menyenangkan, dekat dengan masyarakat, dekat dengan dunia pendidikan, dekat dengan orang-orang yang memberiku banyak ilmu, dan yang pasti berperan serta dalam mengembangkan perekonomiannya rakyat kecil. Sungguh, kalau toh pada akhirnya aku meninggalkan pekerjaan ini, bukan karena hal yang tidak meyenangkan atau ada masalah dengan orang-orang di dalamnya. Pada saat itu, keinginanku hanya satu, kembali ke kota kelahiranku dan dekat dengan semua keluarga, selebihnya tidak penting lagi.

Sebuah lowongan pekerjaan menawarkan penempatan di kota kelahiran membuatku memiliki harapan untuk mewujudkan impianku. Sedikit ada ganjalan, kenapa surat lamaran harus ditujukan ke Denpasar Bali. Tetapi seperti yang aku katakan tadi, aku ingin pulang selebihnya tidak penting lagi.

Proses yang sangat cepat. Empat hari setelah aku melayangkan surat lamaran kerja, ada panggilan ke Denpasar. Panggilan yang sungguh di luar dugaan. Maklum lamaran yang aku layangkan tidak begitu lengkap datanya, karena batas waktu tidak mungkin untuk melakukannya.

Kalau ada pelamar kerja yang bawel, mungkin akulah orangnya. Bagaimana tidak, sebelum berangkat keraguan sempat menyusup di dalam hatiku. Pulau Dewata, ya sebuah pulau yang baru sekali aku mengunjunginya, itupun karena rekreasi sewaktu masih di SMA dulu. Berkali-kali aku telepon ke bagian Personalia untuk menanyakan bagaimana peluangku untuk mendapatkan pekerjaan itu. Dari mulai berapa jumlah pelamar, berapa yang dibutuhkan, siapa dan orang mana pemiliknya, sampai boleh tidaknya seorang muslim yang berjilbab sepertiku. Yang terakhir ini paling penting bagiku. Jauh-jauh datang ke sana, aku ga mau gagal gara-gara masalah ini.

Alhamdulillah meskipun pemiliknya orang asing, tetapi jilbab bukan menjadi rintangan. Keputusan untuk berangkat akhirnya aku ambil pada detik-detik terakhir. Sepulang dari kantor, aku memutuskan untuk berangkat dan ijin sehari esok harinya. Kali ini dewa keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Tiket yang aku coba dapatkan secara langsung di terminal, membawaku pada sebuah bus ekonomi yang tidak menjamin kenyamananku selama dalam perjalanan. Di dalam bus, pikiranku terus melayang, apa yang harus aku lakukan setibanya di Bali nanti andai waktu tidak sesuai dengan prediksiku.

Tepat dugaanku. Bus tiba lebih awal dari yang dijadwalkan. Matahari masih belum menampakkan wajahnya, ketika aku menginjakkan kaki di terminal Ubung Denpasar. pagi masih remang, jam di tangan menunjukkan angka 04.15 waktu Jawa, masih ada waktu untuk sholat subuh, tapi di mana? Masih terlalu pagi untuk datang ke sebuah kantor. Pandanganku segera menyeruak ke segala penjuru terminal yang belum begitu ramai, tapi semuanya terasa asing bagiku. Bahkan aku merasa tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sekitarku. Ah, biarlah, yang penting aku berusaha untuk tetap menunjukkan raut wajah tenang dan bersahabat. Hanya tulisan wartel yang membuatku tertarik untuk melangkah menghampirinya. Langkahku sedikit pelan dan berhati hati, karena khawatir menginjak banten (Sesaji red), yang terlihat masih segar di sepanjang jalan.

Ya...aku ingat, Maulidati adalah orang yang paling tepat aku hubungi saat ini. Gadis berdarah Bali asli ini adalah seorang muslimah, dia satu kos denganku sewaktu masih kuliah dulu. Berawal dari Kakek buyutnya yang memutuskan untuk berpindah keyakinan, begitu dia menceritakan tentang latar belakang keluarganya yang beragama Islam. Sebelum berangkat kemarin kusimpan nomer teleponnya, untuk berjaga-jaga jika aku membutuhkan. Syukurlah, dia ada di rumah, meskipun rumahnya ternyata bukan di Denpasar. Dia meyakinkanku bahwa setelah dari rumahnya di daerah Klungkung, masih cukup waktu kembali ke Denpasar untuk melakukan tes kerja. Bergegas kucari bus bertuliskan jurusan Padang Bai. "Jangan tidur di bus, 30 menit sudah sampai di terminal Gianyar". Begitu bunyi sms yang dia kirim padaku. Agaknya Lida -begitu aku memanggilnya- ingat betul dengan kebiasaanku tidur di bus. Rasa capek membuatkanku tertidur juga di dalam bus, tapi untunglah, teriakan kondektur membangunkanku ketika bus telah sampai di terminal Gianyar.

Keremangan pagi, sedikit mengejutkanku ketika tiba2 Lida telah berada di depanku. Hampir 2 tahun kita tidak bertemu semenjak dia lulus kuliah dan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tidak banyak perubahan dari dalam dirinya, tetap gadis bali yang cantik, dengan senyum yang selalu menghiasi wajah serta jilbab yang melindungi rambut kemanapun ia melangkah. Matahari Bali agaknya tidak mempu membakar kulitnya yang putih bersih. "Ayo, sebelum sebelum subuhnya habis", sembari menarikku untuk masuk ke dalam angkutan kota. Suasana Bali kental terasa ketika lagu bahasa Bali mengalun pelan di dalamnya. Tidak sampai 15 menit, sampai sudah di simpang jalan dekat kerajaan Klungkung. Untuk mencapai rumahnya, kami harus menapaki jalan yang mendaki dan berbelok-belok. Model jalan tangga membantu kami untuk lebih mudah mencapainya. Bentangan tembok di sepanjang kanan kiri jalan dengan sesekali ujung menara pura keluarga menyembul dari balik tembok dan teduhnya pohon kamboja yang menjuntai hingga keluar pagar tembok, terasa seperti melewati terowongan gelap yang panjang

Akhirnya..."Nah, ini rumahku". Subhanallah, sebuah rumah dengan pondok pesantren di sebelahnya, membuat sedikit menyolok di antara bangunan yang lain. Sungguh pemandangan yang kontras. Inilah cerita yang sering aku dengar dari dia "Kampung Muslim". (Bersambung)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 14:11 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

20 February, 2006

The 5 Weird things About Me




The 5 Weird Things About Me

Lagi dapat tongkat estafet untuk nulis tentang "the 5 weird things" dari kang dadang nih. Kelihatannya sih just the 5 weird things..., ternyata ribet juga menuangkannya dalam bentuk tulisan. Setiap dapat satu idea pasti buntutnya "Masa sih begitu, iya juga sih, tapi ga begitu-begitu amat deh kayakna...". Bingungkan?? He...he. Finally setelah 2 hari 2 malam bertapa dan merenung seperti yang dilakukan Teh Ica,ini dia hasilnya:

1.Durian
Aneh, begitu mereka menilai saya, setiap kali saya menolak pemberian durian. Biarinlah dibilang aneh, yang pasti sampai detik ini, saya tidak pernah tahu di mana letak kelezatan buah penuh duri ini. Yang ada, buah ini hanya bikin kepala pusing dan perut mual. Makanya saya sebelll banget kalau didekati orang yang sedang makan duren. So guys...,menjauhlah dariku kalau lagi makan duren.

2.Cacing
Jangankan menyentuh si melata kecil mungil ini. Melihatnya pun saya nggak mau. Takut sih nggak, Cuma setiap kali melihatnya, saya merasa ini binatang berjalan di sekujur tubuh saya. Pernah suatu ketika kejadian di kos-kosan. Kebetulan habis hujan, jadi lagi seneng-senengnyanya dia keluar dari sarang. Eh, malah betah banget nangkrong di depan pintu kamar mandi. He..he,akhirnya saya harus rela nggak mandi sore itu.

3.Selang, Pipa dan Semacamnya yang Big Size
Nggak tahu kenapa, saya takut banget kalau melihat sesuatu yang bentuknya seperti pipa, selang dan semacamnya. Pokoknya yang ukurannya gede, terus panjang apalagi melingkar-lingkar. Imaginasi saya pasti lari kepada bentuk ular naga yang besar yang sewaktu-waktu bisa memakan manusia (kartunis banget ya). Tapi memang begitu sih. Makanya saya nggak suka diajak ke pabrik-pabrik besar, bendungan atau tempat lain yang banyak terdapat benda-benda seperti itu.

4. Nyolokin stop contact listrik
Kalau yang satu ini bisa dikatakan karena trauma. Waktu itu lagi main ke rumah budhe, trus disuruh ngambil bantal yang dijemur di atas atap seng, di belakang rumahnya. Ternyata di atas seng ada kable listrik yang terbuka. Dan...akhirnya,kesetrum, terjatuh dan jari tangan sedikit hangus. Darah dalam tubuh sepertinya tersedot semuanya. Makanya kalau sekarang terpaksa nyolokin listrik, harus pakai kostum lengkap: memastikan tangan kering, bahkan kalau perlu melapisi tangan dengan kain, dan tak lupa memakai sendal (ribet banget ya mau nyalain lampu aja).

5.Diserobot waktu antri
Jangan heran kalau saya menjadi galak kalau diserobot orang di suatu antrian panjang. Sampai-sampai ada penjaga SPBU langgananku yang hapal, kalau saya punya hobi menegur orang yang merusak barisan antrian. Gimana ga menyebalkan, saat antri ditengah hujan turun, di bawah panas terik matahari (men-dramatisir banget ya saya) eh, malah seenaknya memotong barisan. "Pak/Bu/Mas/Mbak/Dek, maaf, antri ya, kasihan yang udah dari tadi nunggu..." Sekali-kali galak kan ga pa pa, demi kebaikan,he..he. Jadi, jangan mencoba nyrobot saya kalau lagi ngantri ya...

Udah 5 kan? Horeee!!! Akhirnya, selesai sudah tugas saya. Untuk itu, biar merata pusingnya, gimana kalau saya meminta Mbak hanum,Mbak Ida,Mbak Yani, Ummi Rina danDek Andres sebagai pemegang tongkat estafet berikutnya? Pada sibuk ga ya mereka? Sekalian refreshing eui... Ditunggu ya ceritanya.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:59 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

14 February, 2006

Surat untuk Sahabat

Surat untuk Sahabat

"...Sahabat, namaku Ahmad, aku tinggal di pedalaman Nusa Tenggara Barat, di Dusun Kleteh tepatnya. Di sini, kami sangat sulit mendapatkan air karena hujan sangat jarang turun. Makanya desa kami disebut desa miskin, karena hasil pertaniannya tidak bagus. Bagaimana dengan desa kalian? Apakah sering turun hujan? Tentu sangat menyenangkan ya bermain-main saat hujan turun..."

Begitu kira-kira sepenggal bait surat yang ditulis oleh seorang sahabat kecil yang berada di pedalaman bumi pertiwi ini, yang ditayangkan dalam program surat sahabat oleh sebuah stasiun televisi swasta beberapa minggu yang lalu.

Bulan Februari sudah memasuki pertengahan, tetapi hujan masih saja mengguyur kota Bojonegoro tanpa mau berkompromi. Sepertinya pertanyaan di atas sangat tepat ditujukan kepadaku, yang beberapa hari ini sering menggerutu karena hujan. Cucian tidak pernah kering, rumah kotor karena halaman yang becek, baru keluar dari tempat cucian motor hujan sudah turun lagi. Rasanya seperti tidak mau memberi kesempatan untuk istirahat sebentar saja.

Sahabat kecilku, haruskan kujawab pertanyaanmu "Iya...di desa kamu sering turun hujan, dan kami sangat senang karenanya...". Ah, malu rasanya atas ketidakjujuran ini

Hanya karena malas menjemur pakaian berulang-ulang, mencuci motor, membersihkan rumah, kenapa jadi menyalahkan hujan???. Padahal di belahan lain di negeri ini, begitu banyak saudara kita yang sangat kekurangan air. Jangankan untuk mandi tiap hari, bisa mendapatkan air untuk memasak dan air minum pun sudah cukup membahagiakan bagi mereka. Menempuh jarak sekian kilo hanya untuk mendapatkan 2-4 jerigen air. Belum lagi ujian kesabaran karena antrian yang tidak pendek. Tetapi tidak sedikitpun terlihat rasa sedih atau capek di raut muka mereka. Justru terlihat mereka sangat bersuka ria dan bersemangat. Tercermin betapa bersyukurnya mereka, karena masih ada sedikit air yang bisa mereka dimanfaatkan.

"...Sekian dulu surat dariku sahabat, doakan ya semoga di desa kami segera turun hujan, agar kami bisa bermain hujan sepertimu...". Begitu dia mengakhiri suratnya

"Pasti Sahabat kecilku, semoga Allah segera menurunkan hujan untuk kalian semua, hingga tak ada lagi tanah kering, sungai dan sawah tanpa air yang mengalir. Dan tentunya kalianpun akan merasakan serunya bermain air hujan seperti halnya saudara kalian di sini".

"...Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat yang Engkau curahkan dari langit ke bumi tercinta ini, karena semua ini adalah sebuah bentuk pemahaman bahwa Engkaulah seadil-adilnya keadilan..."

Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:16 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------