28 July, 2006
Tentang Kekeringan dan Nasi Gaplek

Adalah topik hangat tentang kota kelahiranku yang ditayangkan di sebuah televisi swasta sore kemarin. Kekeringan memang sedang melanda di beberapa daerah di Kabupaten Bojonegoro. Dan salah satu yang terparah adalah Desa Clebung Kec.Bubulan, daerah yang cukup lumayan memberikan kontribusi sebagai penghasil kayu jati dengan kwalitas yang tidak perlu lagi diragukan.
Setiap kekeringan melanda,
nasi gaplek dan
tiwul seolah menjadi
trendsetter yang tidak pernah lepas dibicarakan.Nasi gaplek sendiri sebenarnya berasal dari
menyok (singkong.red) yang dikupas bersih, dikeringkan, ditumbuk agak kasar dan kemudian dikukus. Sedangkan tiwul adalah hasil tumbukan yang halus, yang biasanya dikukus dengan gula merah dan dimakan dengan parutan kelapa muda. Dengan rasanya yang khas dan kandungan karbohidrat yang dimiliki, sepertinya makanan ini memang layak untuk menggantikan nasi. Jadi kurang pas jika banyak orang beranggapan gaplek dan singkong identik dengan
"makanan orang susah".
Tanpa mengurangi rasa empati dengan kesulitan yang menimpa saudara-saudara kita di sana. Meskipun tidak semua, tetapi masih banyak masyarakat desa Clebung sendiri yang telah sejak lama menjadikan tiwul dan nasi gaplek sebagai makanan pokok mereka. Seperti halnya masyarakat madura dengan nasi jagungnya atau masyarakat Irian dengan bubur sagunya. Terutama untuk para generasi tua, karena bagi mereka makanan pokok ini lebih bisa
"mendinginkan" perut. Jadi ketidaksediaan beras bukanlah alasan satu-satunya. Bagi mereka, ketiaadaan beras bukanlah sesuatu yang menjadikan dunia berhenti berputar.
Justru yang paling menyedihkan adalah kekeringan dengan segala akibatnya. Apalagi dengan mata pencaharian yang sebagaian besar adalah petani. Belum lagi harga air yang melonjak, terkadang di luar batas kemampuan keuangan mereka. Alhamdulillah, aku memang tidak tinggal di daerah yang sulit untuk mendapatkan air. Tapi kebetulan nenekku tinggal di daerah yang rawan akan kekeringan. Jadi aku tahu persis, kalau disaat seperti ini harga bisa mencapai Rp 3.000/jurigen. Angka yang cukup tinggi jika dilihat dari tingkat kebutuhan air setiap harinya. Untuk masak, mandi, air minum dan sebagainya. Maka jangan heran, jika di daerah sulit air, kebanyakan menggunakan mangkuk kecil (sisa detergen berukuran 250gr), sebagai gayung mandi. Ini adalah salah satu upaya yang mereka lakukan untuk penghematan penggunaan air.
Seperti halnya bencana-bencana yang lain, kekeringan juga selalu menyisakan berbagai kisah mengharukan. Namun kembali lagi kepada saudara kita yang sedang mengalaminya, mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Selalu bisa mengambil sikap disaat kondisi dan situasi sedang tidak menguntungkan. Mereka tetap mampu bertahan hidup, dengan segala kesederhanaan yang mereka miliki. Allah memang selalu memberi jalan, selama manusia mau berusaha. Semoga kekeringan ini tidak berkepanjangan.
Posted by Ida Latifa Hanum ::
09:28 ::
2 Comments:

Post a Comment
---------------------------------------