Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

28 November, 2006

Jujur # Blak-Blakan

Sesaat setelah karyawan bagian produksi keluar dari ruanganku...

Temanku: Ngapain sih dia ke sini, mana "......" (sensor)banget lagi.
Bikin ruangan kita nggak enak aje.
Aku : Jangan begitu Bu, ntar klo orangnya dengar bisa tersinggung loh.
Teman : Ah elo, die kan emang begitu. Gue kan jujur Da..
Aku : Hah?? Jujur gimana Bu...
Temanku: Iye, gue kan jujur ngungkapin kata hati gue tentang die ke loe.
Aku : Ye, itu mah bukan jujur tapi nggak bisa mengendalikan diri
Temanku: Bisa aje loe. Giliran gue berusaha jujur aje loe bilang
kagak bisa ngendalikan diri.
Aku : Emang begitu, jujur kan gak harus blak-blakan Bu
Temanku: Elo ye..pinter banget ngemas bahasanye.
Aku : ....(just smile)

Teman kerjaku yang satu ini emang sedikit berbeda dengan yang lain. Usianya jauh di atasku. Tapi dengan gayanya yang ceplas ceplos plus logat kental yang ga berubah meskipun sudah 2 tahun ini tinggal di Bojonegoro, membuat orang santai berkomunikasi dengannya.

Pagi-pagi udah ada aja Ibu yang satu ini. Padahal jelas banget kata yang dia tujuan ke karyawan produksi tadi menyinggung perasaan orangnya kalau mendengar. Tapi kok bisa di bilang sebagai sebuah bentuk kejujuran. Kata jujur sebenarnya kata sifat yang menunjukkan kemuliaan. Siapa sih yang ga pengen di bilang orang jujur. Tapi makna jujur bagi temanku yang satu ini kenapa beda?. Bagiku jujur itu nggak harus blak-blakan, nggak harus apa adanya. Jujur perlu ditempatkan pada posisi yang seharusnya. Alih-alih berkata jujur padahal justru menyakitkan orang. Kalaupun ada kecewa itu hanya sebuah proses yang bergerak kepada arah kebaikan. Jadi jujur tidak seharusnya membuat orang lain merasa tidak nyaman berada di dekat kita. Jujur tidak sekedar terucap dalam lisan, tetapi juga dibutuhkan ketrampilan bagaimana mengungkapkan kejujuran itu sendiri. Jika pada akhirnya kata jujur berubah makna, tentulah karena hasil rekayasa. Toh tidak mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam hati bukan berarti tidak jujurkan? Jadi jujur itu... Ditunggu ya commentnya :)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:45 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

06 November, 2006

Bila si Kecil bicara Tentang Cinta


Buat Fahmi

"Fahmi, kamu kok ngguanteng sih...aku gemes deh sama kamu. Aku cinta dan sayang sama kamu, kamu mau jadi pacarku..."

Dari
Putri

Lho...lho...lho...surat apa ini, kok pesannya pakai sayang-sayang (lha..kok mendadak dangdut). Sore itu sehabis jama'ah Azhar di masjid depan rumah, Bapak menemukan secarik kertas di halaman samping masjid. Entah karena merasa aneh, lucu atau gimana, Bapak membawa kertas itu pulang dan menunjukkan ke aku dan menyuruh memberikan ke guru TPA yang berlokasi sama dengan masjid.

Tersenyum tersungging ketika membaca surat bernada merah jambu itu Rasa ingin tahu tentang anak bernama Fahmi muncul, kok sampai bikin si putri "jatuh cinta". Iseng kupanggil keponakanku yang setiap hari juga ngaji di TPA yang sama. Dia bersedia untuk menunjukkan besok sepulang dari mengaji.

Sore itu aku stand by di teras depan rumah untuk menunggu kedatangan arjuna yang telah membuat Putri jatuh cinta kepadanya. Aih...aih...sang pangeran imut lengkap dengan baju koko, peci dan tas di punggungnya, keluar dari pintu pagar belakang masjid dengan wajah ceria. Jadi ini toh sang pangeran cinta, bocah kelas 4 SD yang membuat Putri teman sebayanya tiba-tiba pandai merangkai kata.

"Fahmi pacare Putri e" olok keponakanku begitu anak yang bernama Fahmi lewat depan rumah. Yang digodain cuek aja dan tetap asyik bergurau dengan teman-temannya.

"Emang pacar apa sih Mbak (panggilanku kepada keponakanku)" tanyaku mencoba ingin tahu.

"Pacar yo pacar, seperti yang di TiviTivi itu lho, piye-piye... masa tante ga ngerti, terus nanti jadi istri"...weks, seperti di Tivi?? ...aku di bilang ga ngerti lagi. Hhhmm...benar-benar kotak ajaib ini mempengaruhi bocah lugu ini. (jadi sewot mengingat acara TV yang seringkali acara dan jam tayangnya amburadul) Mungkin maksud keponakanku ini nantinya setelah pacaran jadi suami istri gitu kali ya.

"Mereka kan cinta, terus jadi pacar" Nah lho...hari itu aku mendapat pelajaran cinta dari bocah yang belum genap berumur 7 tahun.

"Lho, Mbak kan juga cinta sama mama, ayah, sama Mas, trus sama adik juga berarti itu juga pacar Mbak?"

"Ya, nggak, mama yo mama, masak dibilang pacar, piye to tante iki" protesnya.

"Lha tante kenapa hayo nggak punya pacar"...gubraks ga nyangka ditodong pertanyaan dari bocah kelas 1 SD.

"Nanti pacarannya, kalau sudah menikah" jawabku

"Masa nikah dulu baru punya pacar, yo pacar dulu" bantahnya

"Trus tante kok ga nikah-nikah, nanti kan bisa punya adik"

Subhanallah..., ternyata benar, jangan menyepelekan anak kecil. Mereka sebenarnya mempunyai kemampuan luar biasa. Dari hal-hal yang dilihat mereka bisa menyimpulkan sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Tidak menyangka ternyata anak kecil yang acapkali kita remehkan, mampu merangkai sebuah kronologis. Bahwa setelah melalui tahapan pacaran, menikah, barulah seseorang boleh memiliki keturunan. Hanya saja terkadang pemahaman mereka perlu diluruskan. Di sinilah orang tua berperan. (halah ngomong apa aku ini, nglantur ga ya?? segera kugiring keponakanku untuk kembali ke materi cinta, (ngeless, asline ga siap kalau pertanyaannya malah kemana-mana)

Alhamdulilah, akhirnya dia bisa menyimpulkan "Berarti menikah dhisik (dulu) baru pacaran?", "Tapi kalau di tivi-tivi kok begitu hayo"...duh, lagi-lagi dia mengandalkan televisi untuk memperkuat argumentasinya.

"Mereka belum tahu Mbak, nanti kalau sudah tahu nggak begitu lagi"

"Kalau Mbak cinta sama temannya, berarti nggak boleh bertengkar, harus rukun, terus membantu teman yang membutuhkan, seperti waktu Mbak di sekolah membantu korban bencana alam itu loh".

"Lha temanku kok yo pacar-pacaran di sekolah" iihhhhh...gemessss banget dengan pertanyaannya.

"Berarti mereka belum ngerti, jadi nggak boleh ditiru. Besok tugasnya Mbak kasih tahu temannya ya".

"Berarti ga boleh ya pacar-pacaran..." katanya mengangguk-angguk.

Dia pun kembali bermain dengan teman-temannya dengan tersenyum, entahlah apa yang sekarang ada di benaknya.

Dan aku (sepertinya) kembali harus menyiapkan jawaban-jawaban lagi, karena aku yakin dia akan kembali dengan hal-hal baru selalu dia temui di luar sana....

Posted by Ida Latifa Hanum :: 09:53 :: 7 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

03 November, 2006

Catatan Lebaran Tahun Ini



Assalamu’alaikum.wr.wb

Apa kabar semuanya? Bagaimana lebaran kali ini? Sudah terobati ya rasa kangennya dengan keluarga dan kampung halaman. :)

Alhamdulillah, Ramadhan 1427H ini akhirnya dapat dilalui dengan lancar, meskipun pada minggu terakhir sempat 2 kali "berkunjung" ke dokter.

Kali kedua lebaran tanpa Mbah dari ibu, sejak beliau meninggal dunia tahun 2004 kemarin. Jadi lebaran kali ini mudik ke kampung halaman Bapak. Masih di Bojonegoro, tapi di kampuang nan jauh di mato. Mudik, sekalian menjemput siMbah yang beberapa waktu lalu "dititipkan" di rumah paklik (adik bapak) karena ortu mesti menunggui kakak yang melahirkan.

Pagi setelah sholat Ied di Masjid depan rumah dan sarapan pagi, siap-siap untuk ke rumah Mbak. Absen dimulai jangan sampai ada yang tertinggal. Dulu seingatku, setiap pergi berlebaran, cukup dengan satu mobil, semua bisa bisa diangkut (kayak barang ajah :)). Tapi sekarang...???. Ups, lupa kalau sekarang anggota keluarga udah bertambah. Semua kakakku udah menikah, jadilah dari 4 menjadi 8. Belum lagi ditambah dengan 5 kurcaci kecil alias cucu bapak ma ibu. Jadi jumlahnya 2 + 5 + 4 +5 = 16, wow lumayan juga ternyata. Tahun depan harus nyewa bus pariwisata kali ya.

Pemandangan yang berbeda juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, salah satu yang bikin betah dalam perjalanan ke rumah Mbah adalah melewati hutan jayu jati yang masih rimbun. Suasana gelap langsung terasa kala memasuki kawasan ini. Tapi sayang, hutan kini sudah dibabat habis. Jadilah suasana yang teduh dan rindang berubah panas. Belum lagi hujan yang tak kunjung tiba, terlihat di sepanjang jalan kering kerontang.

Tepat jam makan siang tiba di sana (sengaja..he..he). Setiap lebaran memang selalu dimasakin kare ayam. Ini salah satu masakan masakan andalan bulik. Pedas, asin, pokoknya nikmat deh. Ba'da ashar, langsung pulang ke rumah. Mengingat di rumah juga pasti banyak tamu, kasihan kalau mendapati rumah tertutup rapat.

Hari raya kedua, berkunjung ke rumah saudara (keponakan ibu) di Tuban. Biasanya sih, mereka yang berkunjung ke rumah. Tapi tahun ini sedikit prihatin, karena saudara ibu ini sedang sakit, jadi sillaturahmi kali ini sekalian menjenguk beliau. Alhamdulillah, keadaanya sudah membaik.

Nah, klo pergi ke Tuban, kita pasti sekalian menyalurkan hobi makan seafood, (ada lagi kesamaan kita Mbak Hanum (http://azayaka2004.wordpress.com). Kalau di Tuban, hhhmmm...di sepanjang jalan gampang banget nemuin seafood. Karena dekat ama laut, jelas beda dengan di Bojonegoro. Ikannya lebih segar, lebih nikmat karena makannya di tepi laut, dan yang paling penting adalah harga lebih murah (huhhh...maunya). Hari itu kebetulan bertepatan dengan Milad Mbak yang nomor 4, jadi sekalian dirayain di sini. Alhamdulillah, sebelum maghrib kita sudah sampai di rumah lagi. Jarak Bojonegoro – Tuban memang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam, tapi tetep saja "capek deh..."

Hari ketiga lebaran,hiks...rumah mulai sepi. Mbak-Mbak pada berkunjung ke keluarga suaminya masing-masing. Jadi...rumah kembali sepi, dan akupun kembali disibukkan dengan kegiatan cuci mencuci gelas yang ga ada habisnya..he..he. Tapi ikhlas kok, banyak tamu banyak rejeki :). Ayo siapa aja boleh bertamu, mumpung kue lebarannya masih ada.

Maaf lahir batin ya...

Wassalamu’alaikum.wr.wb

Posted by Ida Latifa Hanum :: 14:59 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------