Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

22 December, 2006

Mother's day

MOTHER HOW ARE YOU TODAY.....WE LOVE YOU SO MUCH...


Posted by Ida Latifa Hanum :: 13:07 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

08 December, 2006

Sebuah Akhir Yang Manis


Tersebutlah seorang yang shalih membeli sepetak tanah dari seorang petani yang taat beribadah. Setelah terjadi kesepakatan harga, maka sah lah tanah itu menjadi miliknya. Ketika hendak mengelola tanah itu, terkejutlah dia ketika mendapati emas dalam jumlah luar biasa di dalam tanah tersebut.

Senangkah sang orang shalih tersebut? Ternyata tidak. Justru kebimbangan yang senantiasa menghiasi hari-harinya. Apakah emas itu telah menjadi haknya? Bukankah dia hanya membeli sepetak tanah, bukan emas? Bukankah itu artinya sang pemilik tanah sebelumnya lebih berhak atas emas-emas itu?. Berhari-hari dia larut dalam berbagai pertimbangan. Hingga lamunannya berakhir kepada mengingat pengadilan Allah. Kepercayaannya akan pengadilan kelak di akherat membuatnya mengurungkan niat mengambil emas itu, karena khawatir bukan haknya

Maka, datanglah dia kepada sang pemilik tanah. Subhanallah, beginilah jika dua orang hamba Allah yang sholeh diuji dengan harta. Bukannya senang atas penyerahan emas ini kepadanya. Yang terjadi justru dia menolak. Karena merasa telah menjual tanah itu, maka semua yang berada di dalam itu adalah hak pembeli. Perselisihan pun muncul di antara mereka, perselisihan yang jarang terjadi ketika orang mendapati harta berlimpah.

Merasa tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut berdua, akhirnya mereka memutuskan untuk membawa masalah ini ke pengadilan. Hakim pun terkejut dengan perkara yang mereka bawa. Mereka datang bukan untuk merebutkan sesuatu yang sangat berharga, tetapi justru menolaknya.

Ketika permasalahan tidak lagi mendapatkan jalan keluar. Bertanyalah sang hakim kepada keduanya. "Punyakah engkau anak laki-laki" tanyanya kepada sang pembeli. "Iya, saya punya Pak Hakim". "Dan Engkau wahai pemilik tanah, punyakah engkau anak perempuan". Dijawablah dengan anggukan pertanyaan sang hakim itu. "Nikahkanlah mereka, dan berikan harta itu kepada mereka, niscaya harta itu akan lebih bermanfaat bagi keduanya, dan itulah cara yang paling adil bagi kalian".

Dan mereka pun meninggalkan pengadilan dengan tersenyum.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 13:14 :: 3 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------