Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

17 March, 2007

Diam Yang Berdosa

Tak selamanya diam itu emas....eh, ini bukan dalam rangka menyanyikan syair lagu ya. Pernah dengar gak cerita tentang seorang pejabat mengucapkan kata-kata perpisahan karena akan dipindah tugaskan di tempat lain?. Seperti biasanya, selalu diungkapkan rasa terima kasih dan permintaan maaf selama menjadi pemimpin. Tapi permintaan maaf kali ini lain. Kali ini bukan hanya permintaan maaf untuk ucapan yang tak pantas, perbuatan yang tidak menyenangkan atau sikap yang kurang adil, tetapi permintaan maaf untuk apa yang tidak bisa dia ungkapkan atau disembunyikan.

Selama ini kita sering beranggapan bahwa dosa atau kesalahan adalah atas apa yang kita ucapkan atau kita bicarakan. Benar, karena anggapan bahwa diam itu emas, diam itu sebuah bukti pengendalian diri. Dan diam adalah tanda orang yang mendapatkan nikmat. Namun ternyata, sebagaimana tidak semua berbicara berdosa, diam pun tidak semua berpahala, tidak semua berarti emas.

Ternyata ada beberapa diam yang dianggap berdosa,
Pertama, diam ketika melihat kemungkaran yang secara terang-terangan dilakukan di depan kita. Sebagai contoh diamnya suami ketika melihat istrinya berbuat sesuatu yang tidak disukai Allah. Karena mengijinkan kezaliman sama berdosanya dengan melakukan kezaliman itu sendiri.

Kedua, diam terhadap informasi dimana masyarakat luas sangat membutuhkannya untuk kebaikan. Ini sama halnya ketika seorang alim (pemilik informasi) ditanya, lalu dia diam menyembunyikannya. Atau ketika seorang yang berilmu tidak mau mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga mengakibatkan orang lain tersesat.

Ketiga, diam yang dilakukan karena menguntungkan dirinya sendiri. Diibaratkan seorang yang semula sangat bersimpati terhadap penindasan yang dilakukan pemimpinnya, tetapi tiba-tiba berubah diam dan tidak banyak berbicara. Dan hal itu dikarenakan sekarang dia telah mendapatkan posisi menguntungkan di tengah orang-orang yang dulu dikecamnya. Ketika dia sudah mendapatkan apa yang dimau, tidak lagi perduli dengan saudaranya yang dahulu senasib dengannya.

Keempat, diam karena kita tidak mau mengakui kesalahan dan tidak ada usaha untuk memperbaikinya. Kesalahan yang amat sangat merugikan masyarakat luas, dan mereka membutuhkan pertanggung jawaban kita. Dan ketika ada orang lain yang bisa dijadikan kambing hitam, kita akan kembali bersuara lantang.

Memang kita tidak pernah tahu untuk alasan apakah orang meminta maaf untuk tutup mulutnya. Bisa jadi karena sebagai orang yang tertindas dalam kezaliman, bisa karena informasi yang tidak berani disampaikan atau karena alasan yang lain. Satu hal yang pasti, semoga kita tidak termasuk yang berburuk sangka. Lalu, bagaimana dengan alasan aksi diam kita? :). (Mimbar)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 18:01 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------