Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

12 June, 2007

Chocolate and Strawberry


Seperti biasa, mengawali pagi dengan membuka cakrawala melalui lembar demi lembar daily newspaper. Sebuah synopsis film yang tidak lama lagi akan ditayangkan di bioskop bioskop Indonesia. First, I am really intertest with the title "Coklat and Strowberi, ajarkan Arti Pilihan Hidup". Hhhmm..jujur aja nih, jarang-jarang loh film kita yang memberikan nilai nilai kehidupan. So, mo tahu cerita tentang film yang kata mereka mengajarkan tentang pilihan hidup?

Tidak jauh berbeda dengan film film Indonesia yang pada umumnya bercerita tentang kisah percintaan dan persahabatan anak-anak muda. Hanya saja yang ini adalah kisah cinta pasangan anak manusia sejenis alias guy (Na’udzubillah). Perjalanan hidup membawa mereka bertemu secara intens dengan kaum hawa. Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka menyadari kalau apa yang mereka lakukan selama ini adalah kesalahan besar. Hubungan yang mereka rajut adalah adalah hubungan tidak sehat yang tidak akan pernah sampai pada masa depan.

Konflik terjadi, ketika pasangannya tidak menyadari kesalahannya dan tetap bersikukuh pada cara pandang hidupnya yang nggak jelas. Oh ya, Sebenarnya judul coklat di sini adalah perumpamaan untuk sifat maskulin dan strawberi untuk jiwa yang feminis (jangan "Tanya kenapa", bukan sutradaranya eui.)

Jadi, singkat cerita, diharapkan drama komedi romantis ini di tonton semua kalangan, khususnya orang tua kenapa? Lho, kenapa mesti begitu?? Karena….kata sutradaranya nih "Ada satu pesan mendasar tentang pentingnya pilihan hidup, dan agar orang tua mengerti dan memahami jika harus menerima keadaan anaknya yang berkarakter 'penyakitan' ".(lho...lho...lho...piye to iki?)

Nyleneh kan! Sebuah gagasan alias ide konyol untuk orang tua dengan membiarkan anaknya ‘sakit” alih alih alasan HAM….(Astaughfirullah). Jika sudah begini, apa iya film ini mampu memberikan nilai? Apa bukannya semakin memberikan pandangan yang salah pada masyarakat?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa fenomena masyarakat "sakit' seperti ini memang ada. Tapi bukan berarti menjadi alasan sebuah pembenarankan. Sangat dikhawatirkan justru film film seperti ini lah yang semakin menyuburkan komunitas amburadul seperti ini. Kita lihat saja bagaimana, jika film ini jadi diputar tanggal 14 juni pekan depan.

Dalam sebuah hadits disebutkan: Allah Swt. dan RasulNya telah menetapkan hukum bunuh bagi pelaku liwath (homoseksual) . Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan (pasangannya)" (HR Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, Abu Daud, dan an-Nasa’i)

Tak takutkan kita jika perilaku menyimpang ini menjadi bom waktu yang suatu saat bisa menghancurkan bumi seisinya?. Jika Allah berkehendak, dengan mudah Dia akan menggantikan orang-orang penentang di muka bumi ini dengan orang-orang yang akan patuh serta cinta pada Allah. Dan Allah pun pasti akan mencintai mereka.

Seharusnya, film sebagai media ampuh yang bisa mempengaruhi pola pikir masayarakat justru lebih berorientasi pada solusi dan tindakan pencegahannya. Bukan justru memaksakan penyelewengan menjadi sebuah bentuk pembenaran dengan dalih mengatasnamakan kebebasan berekspresi atau hak asazi manusia. Ingat Bro, Allah telah mengatur segalanya dengan Sempurna.....masih ada waktu untuk berubah menjadi lebih baik, sebelum segala sesuatunya terlambat

Posted by Ida Latifa Hanum :: 14:13 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

09 June, 2007

Kembali ke…Blog


Assalamu’alaikum.wr.wb

Apa kabar saudaraku? Maaf ya kalo selama dua bulan lebih saya belum update Blog. Saya memang sedikit direpotkan dengan aktifitas di tempat tinggal baru. Hampir dua bulan ini saya moved to Denpasar. Sebenarnya tawaran untuk pindah kerja ke Denpasar sudah dari Bulan Januari keamrin, tetapi entah kenapa, saya yang dari awal merasa berat, akhirnya berangkat juga ke Denpasar. Buat saudara2ku, Tika, Pak Aziz Abu Amin, terima kasih ya atas supportnya.

"Bali bumi Allah juga kan, siapa tau bisa mewarnai" kata mustika
"Di manapun sama saja, asalkan kita bias menjaga ketakwaan dan selalu mengingat Allah, begitu kata istri saya" nah lho, Makasih ya Abu, sampai istrinya urun rembuk juga"
"Kalo saya pasti mau, kan bisa jadi dakwah" begitu kata Pak Azis yang tgl 13 kemarin menggenapkan dien.

Bukan pesimis atau gimana, just like krisis kepercayaan diri lah (sama aja ya), apa iya saya yang begini2 aja bisa mewarnai, apa tidak saya yang terwarnai. Jauh dari ortu dan keluarga eui. Tapi alhamdulillah, so far so good. Ternyata benar, Bali juga bumi Allah. Finally aku bertemu juga dengan keluarga baru di sini. Thank You Allah...

Namanya juga lingkungan baru, mesti adaptasi dengan teman baru dengan berbagai macam karakter dan budaya yang berbeda. Apalagi teman-teman kerja di sini tidak hanya dari dari sabang sampai merauke tapi juga yang dari belahan bumi Allah yang lain.

Nah, berkaitan dengan pekerjaan di Branch Office di sini tidak lagi online 24 jam seperti di Bojonegoro. Maklum, the big bos officenya ada di ruangan sebelah jadi untuk pengiriman report pekerjaan sudah tidak melalui internet. Kasian deh saya, makanya jadi jarang on the line. Meski setiap hari, tapi tidak lagi in full days. Maklum, namanya juga fasilitas perusahaan. Semoga "numpang" internet di tempat kerja tidak sia2 dan ada manfaat di dalamnya.

Belum juga genap dua bulan menginjakkan kaki di bumi Pulau Dewata, warna kehidupan terus saja berjalan. Mulai dari cerita seneng, sedih, mengharukan plus yang lain lainnya. Dan yang pasti, aku pun tak sabar ingin berbagi cerita denganmu saudaraku. Kamu, iya kamu :) (Bersambung)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 07:55 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------