Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

30 August, 2007

MAHA BENAR ALLAH

Jika Anda termasuk penggemar acara televisi "Discovery" pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau. Ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis.
Orang tua berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.

Suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al-Qur'an tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi "Marajal bahrayni yaltaqiyaan, baynahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. ." artinya "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tidak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhumaa lu'lu`u wal marjaan" artinya "Dari keduanya keluar mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al-Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al-Qur'an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar.

Dengan seketika ia pun memeluk Islam. Allahu Akbar! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallaahul `Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Seorang sahabat bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al-Qur'an."

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. " (Q.S Al Furqan:53)

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:06 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------
WANITA LEBIH SUKA DIBOHONGI?

Suatu ketika, pernah ada cerita lucu ketika seorang Marketing Officer sebuah BUMN datang ke kantorku untuk urusan dinas. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba handphone Bapak ini berdering. Sesaat sebelum menjawab, ia melihat layar Hp nya, kemudian menoleh ke arahku dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir, isyarat bahwa dia memintaku untuk tidak mengeluarkan suara.

Sepatah dua patah kata, tentulah ada pembicaraan yang mampir ke telingaku. "Sudah makan?" "Oh nggak, nggak kemana-mana lagi di kantor aja"..."Oh itu..., suara sirene mobil patroli polisi".( memang pada saat itu ada mobil polisi lewat depan kantor dengan suara khasnya)

Merasa nggak nyaman berada di ruangan itu, aku segera keluar. Setelah agak lama dan tidak terdengar lagi percakapan, aku segera kembali untuk meneruskan diskusi yang tadi sempat terputus.

"Maaf ya Mbak..." katanya sambil tersenyum simpul

"Oh ya Pak, nggak apa apa kok". Jawabku

"Itu tadi istri saya yang telpon" timpalnya lagi

"Oh, saya pikir putrinya Bapak"

"Biasalah wanita, nanti kalau dia tahu saya di luar kantor, malah tanya yang nggak-nggak, apalagi sampai dengar suara wanita. Istri saya cemburuan Mbak, makanya daripada jadi panjang ceritanya, mendingan saya bilang begitu aja".

Sebenarnya kalau tidak karena menjaga perasaannya, tentulah tidak kutahan tertawaku, pun tetap juga dia menangkap senyumku. "Ya begitulah Mbak wanita" ulangnya lagi Yang di benak ku saat itu, apa istrinya nggak tahu pekerjaaan suaminya. Kalau tahu mestinya kan nggak berlebihan gitu. Atau karena suaminya pernah ketauan pernah tidak jujur? Andai tadi dia sempat mendengar suaraku, apa akan terjadi perang dunia kedua?, apa dia akan marah ke suaminya tanpa alasan?" Hayah…kok jadi berandai-andai gini.

Kejadian itu mengingatkan aku pada sebuah ucapan seorang teman "Wanita memang suka dibohongi"

Hhhhmmm, Masa sih?? Nggak semua begitu deh kayaknya. Walaupun ada, semoga saya bukan termasuk di dalamnya, apalagi just for something stupid..iihhh...nggak banget deh…:D

Posted by Ida Latifa Hanum :: 07:44 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

12 August, 2007

Kisah Sebatang Pohon


Suatu Ketika di sebuah padang, tersebutlah sebuah pohon rindang. Dahannya rimbun dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya menembus tanah hingga dalam. Pohon itu tampak gagah dibandingkan dengan pohon-pohon yang lain di sekitarnya

Karena rindang dan tingginya pohon itu menjadi tempat hidup bagi beberapa burung di sana. Mereka membuat sangkar dan bergantung hidup pada batang-batang pohon itu. Burung burung itu membuat lubang dan mengerami telur – telur dalam kebesaran pohon itu. Pohon itu merasa senang mendapat teman saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah dan berteduh di kerindangan pohon itu. Mereka duduk dan membuka bekal makanan di bawah naungan dahan-dahannya. “Pohon yang sangat berguna”, begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi sang pohon pun bangga dengan mendengar perkataan itu.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya mulai berjatuhan. Tubuhnya kini kurus dan pucat. Tidak ada lagi kegagahan yang dulu dimilikinya.burung burung pun enggan bersarang di sana. Orang yang lewat tidak lagi singgah untuk berteduh.
Sang pohon sedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap si pohon. “mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku agar aku tak perlu merasakan siksaan ini.” Sang pohon terus menangis hingga air matanya membasahi seluruh tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada suatu pagi menjelang.

“Cittt…cericit..cittt”. Ah, suara apa itu? Ternyata ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

“Cittt…cericit…citt.” Suara itu makin keras melengkingnya. Ada anak burung lagi yang baru menetas. Lama kemudian riuhlah di atas pohon itu. Ada anak-anak burung yang menetas. Satu, dua, tiga…empat anak burung lahir ke dunia.
“Aha..doaku dijawab-Nya”, seru sang burung.

Keesokan harinya terbanlah burung burung kea rah pohon itu. Mereka membuat sarang –sarang baru. Ternyata batang pohon yang kering mengundang burung dengan jenis tertentu untuk mau bersarang di sana. Burung – burung itu merasa lebih hangat berada di batang yang kering ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih beragam dan lebih banyak. “Ah, kini hari-hariku makin cerah bersama burung – burung ini”, guman dang pohon dengan hati berbinar.

Sang pohon kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang pohon tampak tersenyum. Ah, rupanya air mata sang pohon tua itu menumbuhkan bibit baru yang akan melanjutkan penabdiannya pada alam.
Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik dari kisah di atas? Allah memang selalu mempunyai rencana-rencana rahasia untuk kita. Allah dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia akan selalu memberi jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tidak mudah untuk kita mengerti. Tapi yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan kepada kita, kita harus ingat akan ada saat yang lain. Saat Dia memberikan kita karunia yang berlimpah. Ujian-Nya bukanlah harga mati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang pohon, sesungguhnya Dia sedang menunda pemberian kemuliaaan. Allah tidak menumbangkan pohon itu sebagaimana yang dia minta, sebab Dia menyimpan sejumlah rahasia.Allah sedang menguji kesabaran yang dimiliki sang pohon.
Teman, yakinlah…apapun cobaan yang kita hadapi adalah bagian dari rangakian kemuliaan yang sedang Allah persiapan untuk kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah selalu bersama-sama orang yang sabar. – Renungan untuk diri sendiri,yang ingin menjadi lebih sabar-

Posted by Ida Latifa Hanum :: 11:21 :: 2 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------