Karena Setiap Kata Adalah Doa
Karena Setiap Kata Adalah Doa

12 November, 2007

Ciuman Salah Waktu

Kadang kita sering lupa dan sulit membedakan cinta kasih kita kepada siapa atau apa. Tulisan di bawah ini adalah adalah kisah nyata dari seorang teman.

Rere, bocah umur 2 tahun adalah anak dari pasangan suami istri muda. Pada anak seumuran ini tentulah dia sedang lucu-lucunya. Tak perlu ditanyakan betapa sayang kedua orang tuanya kepadanya. Hingga pada saat ulang tahunnya, sang ibu berencana membuat pesta. Tak lupa menyiapkan kado istimewa yang menurutnya akan disukai oleh bocah kecil ini.

Di sebuah mall, bertemulah sang ibu ini dengan sebuah mainan mobil-mobilan yang cukup besar dengan motor yang dijalankan dengan baterai kering, hanya menekan pedal gas mobil ini bisa langsung jalan. Melihat harganya yang lumayan mahal sang ibu mulai berpikir sejenak. Namun setelah menimbang, akhirnya memberanikan diri untuk membelinya.

Pulanglah ibu muda ini untuk segera menyiapkan pernak - pernik pesta ulang tahun. Ulang tahun berjalan sangat meriah, anak tetangga kanan dan kiri semua diundang untuk menghadiri acara ulang tahun ini. Rere pun sangat senang karena suasana rumah menjadi ramai dan meriah dengan berkumpulnya teman - teman kecilnya yang biasa bermain bersama dengannya. Sajian kue - kue lezat buatan ibunya, membuat pesta semakin menyenangkan. Singkat cerita sang ibu merasa bangga karena acaranya berlangsung sukses, apalagi Rere terlihat antusian dengan kado yang dibeli ibunya dengan susah payah. Rere pun langsung mengendarai mobil - mobilan barunya.

Seminggu berlalu, Rere masih asyik bermain dengan mobil-mobilannya setiap hari. Hingga suatu ketika sang ibu pulang dari kantor di sore hari dengan kondisi sangat capek, penat karena panas dijalan, mendapati mobil-mobilan Rere rusak parah. Bannya lepas 2 kemudian spionnya lepas dan kondisi mobil sudah terbalik. Kontan saja sang ibu ini mukanya merah padam, mengingat dia membeli mobil-mobilan ini dengan susah payah dengan uang yang tidak sedikit hingga dia harus kencangkan ikat pinggangnya hanya untuk membeli mobil-mobilan ini.

Kemudian dia mencari anaknya yang sedang bermain. Setelah bertemu Rere sang ibu ini langsung bertanya dengan nada tinggi dan marah - marah kepada Rere. Dan di ujung aksinya sang ibu memukul Rere hingga Rere menangis dengan sangat keras dan meminta ampun karena kesakitan dan merasa takut kepada ibunya. Menyadari anaknya begitu, sang ibu langsung menenangkan Rere. Selang beberapa waktu Rere pun diam. Setelah dinina bobokan, Rere pun tertidur dan dibawa kekamar. Sambil menidurkan sang ibu melihat keadaan Rere yang pulas tertidur. Dengan perasaan sangat menyesal sang ibu ini melihat warna merah - merah di bagian paha dan kaki Rere akibat pukulan tangannya. Sang ibu ini meneteskan air matanya dan memeluk erat Rere serta menciuminya, sebagai bukti penyesalan atas emosinya yang tidak terkendali. Bagaimanapun Rere adalah anak keasayangannya.

Akan tetapi pelukan erat dan ciuman sang ibu ini sebenarnya salah waktu. Bagaimana tidak, saat Rere sedang tidur sang ibu ini mencurahkan kasih sayangnya.Sedangkan Rere sendiri tidak merasakan kasih sayangnya karena sedang pulas dengan tidurnya. Yang Rere tahu adalah ibunya yang pemarah, suka memukuli jika dia melakukan kesalahan. Yang dia rasakan adalah bahwa ibunya tidak lagi sayang kepadanya, Maka sia - sialah curahan kasih sayang yang salah waktu seperti ini. Apakah anda sering melakukan hal ini? Mulailah berubah dan tunjukkan kasih sayang kita pada saat yang tepat. Jika kasih sayang yang kita curahkan ini tidak diketahui oleh orang yang kita sayang maka akan akan menjadi sia-sia.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 11:25 :: 1 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

03 November, 2007

Tabbayun, warisan Ramadhan

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, tanpa kita tahu apakah akan bertemu kembali dengannya. Yang hanya bisa kita lakukan saat ini adalah memelihara warisan Ramadhan agar senantiasa terjaga dalam diri kita. Salah satunya adalah Tabbayun, sikap kehati-hatian, teliti, mencari kebenaran, sehingga kita tidak mudah terprovokator dan berusaha untuk mengklarifikasi setiap kebenaran berita yang kita terima.

Rasulallah sendiri memberikan keteladanan dalam sikap tabayyun ini. Pernah dalam sebuah riwayat, diceritakan ada seorang sahabat memberikan laporan kepada Nabi, bahwa si Fulan tidak suka rumahnya dekat dengan masjid, dan tidak pula senang berdekatan dengan Rasullaah. Namun, Beliau tidak begitu saja mempercayai laporan tersebut. Di datanginya si Fulan, lalu beliau bertanya, "Benarkan engkau tidak senang rumahmu berdekatan dengan masjid dan tidak pula engkau senang ketika dekat denganku".

Lalu si Fulan menjawab "berita itu benar wahai Rasullallah, bukankan engkau sendiri yang mengajarkan bahwa Allah mengitung setiap jengkal langkah kita ke masjid. Dan pula tiap jengkal langkahku mendekatimu untuk mendapatkan segala kebaikan darimu. Dengan jauh dari masjid dan dengan jauh darimu, akan semakin banyaknya amalan yang dihitung Allah ketika aku berjalan mendekati rumah Allah dan mendekat kepadamu"

Demikianlah Rasulallah mengajarkan kepada kita. Betapa pentingnya sikap tabbayun, karena semua itu bisa menghindarkan perpecahan tali persaudaraan dan menjaga sillaturami. Bukan tanpa alasan ketika Allah menciptakan struktur mata, telinga dan mulut dalam anatomi tubuh manusia. Kita haruslah banyak melihat dan mendengar sebelum kemudian berbicara. Karena hanya ada dua aktifitas lisan, jika tidak berkata baik, maka ia diam.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf:18)

So, sebagai seorang mukmin, sudah seharusnya kita tidak mudah terprovokasi dan tidak pula menjadi provokator. Dan Tabbayun adalah sikap yang mampu mengendalikan keduanya. Siapkan kita menjadi pewaris atas warisan Ramadhan yang berharga ini?? Ayo kita buktikan

Posted by Ida Latifa Hanum :: 10:37 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------

01 November, 2007

Sudah Bersyukurkah Pagi Ini??

Dengan apa kita mengawali pagi hari ini? Tersenyum , bersedekah? Atau masih termanggu pada jawaban atas do’a dan permintaan yang kita sampaikan kepada Allah tadi malam?

Sepertinya kita selalu sibuk dengan mengharap dan menghitung berapa banyak permintaan kita yang belum diijabah oleh Allah SWT. Padahal jika kita mau membuat daftar perbandingan, akan jauh lebih banyak nikmat Allah yang kita terima tanpa kita minta dibanding dengan permintaan yang belum dikabulkannya. Nggak percaya?? Bikin coret2an yukkk .... Kenapa? kaget ya :(

Ketika bangun dari, cobalah melihat dari dalam diri kita. Siapa yang menjaga jantung kita tetap berdetak, padahal dalam waktu yang bersamaan kita tengah lelap menikmati indahnya mimpi. Siapa yang menjaga mata kita tetap berkedip, siapa yang memberikan rasa kantuk, sehingga kita tidak tiba2 tidur ketika sedang beraktifitas, pun tidak pernah pula perusahaan oksigen Allah tutup, karena sang empu-Nya sedang sibuk dengan urusan-Nya.Ya Rabb, rasanya tak kan mampu menghitung semua nikmat-Mu.


So, kita mulai pagi hari ini. Berhentilah untuk menghitung berapa banyak doa kita yang belum dikabulkan, tetapi mulailah untuk menghitung berapa banyak nikmat yang Allah telah berikan tanpa kita memintanya. Semua itu adalah bukti atas rasa sayang Allah kepada kita. Ya Rabb...ampunkanlah dosa-dosa kufurku atas nikmat-Mu.

Posted by Ida Latifa Hanum :: 08:08 :: 0 Comments:

Post a Comment

---------------------------------------